Pada 2025, Rusal memproduksi 3,91 juta ton aluminium setara sekitar 5,3% produksi aluminium dunia. Produksi alumina mencapai 6,85 juta ton, atau sekitar 4,7% produksi dunia.
N+ Group menjadi pemegang saham terbesar RUSAL dengan 56,88%, SUAL Partners menguasai 21,17%, dan sekitar 21,95% saham lainnya dimiliki pemegang saham lain.
Perusahaan tersebut terbentuk pada 2007 setelah penggabungan Rusal dengan SUAL dan aset alumina milik Glencore.
Di sisi lain, perseroan mengklaim lebih dari 90% aluminium yang diproduksi berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Dalam laporan keuangan 2025, Rusal tercatat memproduksi alumina sekitar 6,58 juta ton yang berasal dari 11 fasilitas pengolahan di Rusia, Irlandia, Jamaika, Guinea, China dan India.
Selain itu, Rusal memiliki 7 tambang bauksit di Rusia, Guinea, Guyana dan Jamaika. Total cadangan bijih yang tercatat dalam laporan mencapai sekitar 1,89 miliar ton.
Perseroan juga memiliki dua pabrik pengolahan silikon dengan kapasitas 53.000 ton. Selain itu, Rusal memiliki 11 smelter aluminium premier.
Kemudian, terdapat 4 fasilitas pengolahan foil, 2 fasilitas pengolahan aluminium bubuk, dan 2 pabrik pelek roda berbahan aluminium.
(azr/wdh)






























