Logo Bloomberg Technoz

Cum-HMETD di pasar reguler dan negosiasi berlangsung pada 24 September, sedangkan tanggal daftar pemegang saham yang berhak memperoleh HMETD pada 28 September 2026.

Selanjutnya, HMETD akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 30 September dan dapat diperdagangkan sekaligus dilaksanakan pada 1-14 Oktober 2026. 

Adapun, PT Henan Putihrai Sekuritas, PT Tata Tirta Datun, Happy Hapsoro dan Ferry Sudjono bakal menjadi pembeli siaga dalam hajatan rights issue ini.

Henan Putihrai Sekuritas berkomitmen dengan serapan maksimal Rp100 miliar, Tata Tirta Datun Rp350 miliar, Happy Hapsoro Rp100 miliar dan Ferry Sudjono Rp388,57 miliar.

Dari total dana tersebut, sekitar Rp816,68 miliar secara langsung berkaitan dengan pengembangan Uluwatu.

Sebanyak Rp420,49 miliar akan digunakan sebagai penyertaan modal pada PT Bukit Bali Permai, yang selanjutnya antara lain digunakan untuk mengambil alih PT Royal Uluwatu Residence sebesar Rp193,41 miliar dan penyertaan modal Rp227,08 miliar untuk pengembangan lahan sekitar 3,9 hektare di kawasan Uluwatu. 

Selain itu, BUVA mengalokasikan Rp396,19 miliar untuk pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate, termasuk jalan, art gallery, natural park, fasilitas olahraga dan fasilitas penunjang lainnya.

Pengembangan tersebut direncanakan dilakukan bertahap dan ditargetkan selesai paling lambat kuartal IV-2028. 

Rencana ekspansi Uluwatu tersebut menjadi perhatian seiring pemerintah yang tengah mendorong Bali sebagai salah satu lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).

Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus 2026 memastikan PFII akan berlokasi di Jakarta dan Bali, dengan Jakarta menjadi lokasi awal sebelum dikembangkan di Bali.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah meninjau sejumlah lokasi di Bali, termasuk lahan milik BUMN di Bali Barat.

Sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) di Bali juga sempat dipertimbangkan sebagai alternatif lokasi PFII. Namun, pemerintah ketika itu belum menetapkan lokasi persisnya.

Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani kemudian mengatakan pemerintah tengah menyiapkan PFII di Bali bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut Rosan, pertemuan dengan investor di Bali juga telah dilakukan dan mendapatkan respons yang positif.

Dengan demikian, pengembangan Uluwatu oleh BUVA berlangsung di tengah rencana pemerintah menjadikan Bali sebagai salah satu pusat aktivitas keuangan dan investasi internasional.

Namun, belum ada keterangan dalam prospektus BUVA yang mengaitkan secara langsung proyek Uluwatu perseroan dengan PFII.

Selain ekspansi, sebagian dana rights issue BUVA juga akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan.

Perseroan mengalokasikan Rp417,8 miliar untuk pembayaran dipercepat seluruh pokok utang berdasarkan perjanjian pembiayaan.

Sementara Rp150 miliar akan digunakan untuk renovasi menyeluruh Alila Ubud dan Rp150 miliar lainnya untuk pengembangan infrastruktur kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan. 

Dari sisi pemegang saham, PT Nusantara Utama Investama (NUI) sebagai pemegang saham utama dan pengendali dengan kepemilikan 61,07% menyatakan akan melaksanakan 2,4 miliar HMETD dari hak yang diperolehnya.

NUI juga menyatakan memiliki kecukupan dana untuk melaksanakan HMETD tersebut. 

Adapun jika pemegang saham tidak melaksanakan HMETD, kepemilikannya akan terdilusi maksimal 20% setelah PMHMETD II. Sementara sisa saham yang tidak diambil pemegang saham akan diserap oleh pembeli siaga sesuai komitmen masing-masing.

(fik)

No more pages