Arus kas dari aktivitas operasi juga menguat menjadi US$31,7 juta, dibandingkan US$8,2 juta pada 1H25.
Segmen tanker minyak, FPSO dan FSO menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$120,4 juta dan laba segmen US$66,8 juta.
Sementara itu, bisnis gas mulai mencatat pertumbuhan pendapatan menjadi US$6,4 juta, meski masih membukukan rugi segmen sebesar US$2,2 juta.
Kinerja tersebut datang ketika BULL tengah mempercepat transformasi bisnis dan ekspansi armada, termasuk ke bisnis LNG.
Perseroan sebelumnya telah membuka sejumlah opsi pendanaan untuk ekspansi, termasuk pinjaman perbankan, penerbitan obligasi dan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Di tengah rencana tersebut, BULL juga dikaitkan dengan rencana aksi korporasi yang melibatkan Grup Sinar Mas.
Pasar sebelumnya ramai memperbincangkan kemungkinan rights issue BULL yang disebut berkaitan dengan rencana injeksi sekitar 30 kapal tanker LNG milik Grup Sinar Mas ke dalam perseroan.
Kabar tersebut mencuat seiring langkah Grup Sinar Mas yang dikaitkan dengan rencana akuisisi Hyundai LNG Shipping. Namun, hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi mengenai skema rights issue maupun rencana injeksi armada tersebut.
BULL sebelumnya menyatakan terbuka terhadap berbagai alternatif pendanaan untuk mendukung ekspansi, termasuk corporate action, pinjaman baru, maupun strategic investor.
Laporan riset Samuel Sekuritas pada April 2026 juga mencatat BULL tengah berdiskusi untuk mendapatkan strategic investor melalui rights issue pada tahun ini.
Riset tersebut mengaitkan rencana tersebut dengan ekspansi BULL ke bisnis LNG dan perkembangan ekspansi Grup Sinar Mas di sektor LNG.
Selain ekspansi armada, BULL pada 2026 mengakuisisi Offshore Maritime Holdings untuk memperkuat bisnis offshore serta fasilitas produksi dan penyimpanan migas terapung.
Dari sisi neraca, posisi likuiditas perseroan membaik. Selisih antara liabilitas lancar dan aset lancar menyusut menjadi sekitar US$6,75 juta dari US$55,1 juta pada periode sebelumnya. Namun, total pinjaman meningkat seiring ekspansi armada.
Kinerja laba juga mendapat kontribusi dari faktor nonoperasional, antara lain keuntungan kurs sebesar US$4,24 juta dan keuntungan akuisisi sebesar US$2,60 juta.
Di sisi lain, laporan keuangan BULL masih menyimpan sejumlah risiko. Auditor memberikan opini wajar dengan pengecualian terkait pos piutang rekonsiliasi sebesar US$7,97 juta dengan lima kreditur serta menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha.
Selain itu, konsentrasi pelanggan masih tinggi. Tiga pelanggan terbesar menyumbang sekitar 79% terhadap pendapatan perseroan, sehingga perubahan hubungan bisnis dengan pelanggan utama berpotensi mempengaruhi kinerja BULL.
Dengan demikian, lonjakan kinerja 1H26 memberikan basis fundamental yang lebih kuat bagi ekspansi BULL.
Namun, realisasi ekspansi LNG, kebutuhan pendanaan, struktur rights issue apabila dilakukan, serta kemampuan perseroan menjaga arus kas dan mengelola utang akan menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor ke depan.
(fik/naw)
































