Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan negaranya memberikan perhatian pada pengembangan kerja sama dengan Indonesia, khususnya di sektor energi nuklir atau PLTN.
Hal tersebut disampaikan Putin kepada Prabowo dalam pertemuan santap siang di sela EEF ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Salah satu kerja sama bilateral yang disorot oleh Putin adalah kerja sama di sektor energi, khususnya pengembangan energi nuklir.
“Kami memberikan perhatian pada pengembangan kerja sama bilateral di bidang pertanian, pembangunan kapal, teknologi digital, dan energi, khususnya energi nuklir,” ujar Putin dalam pertemuan tersebut, ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).
Sebelumnya, Direktur Jenderal BUMN nuklir Rusia, Rosatom Corp Alexey Likhachev menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Selasa (12/5/2026).
BUMN nuklir Rusia tersebut membahas rencana kerja sama pengembangan PLTN dengan Prabowo.
Selain rencana pengembangan PLTN, Rosatom dengan Prabowo turut membahas ihwal pengembangan infrastruktur nuklir, pelatihan sumber daya manusia (SDM), hingga aplikasi nonenergi dari teknologi nuklir.
“Bagi kami, sangat penting bahwa dialog antara Rusia dan Indonesia di bidang nuklir berkembang dalam suasana saling percaya dan saling menghormati. Saat ini, Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk pengembangan energi nuklir,” kata Likhachev dalam siaran pers, Selasa (12/5/2026).
Lebih lanjut, Likhachev menyatakan Rosatom siap menawarkan Indonesia untuk bekerja sama dalam pengembangan PLTN skala besar maupun proyek reaktor modular kecil dan unit pembangkit terapung.
Selain itu, Likhachev bersama Prabowo dan pejabat negara lainnya juga memberikan perhatian khusus pada integrasi energi nuklir ke dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia, dengan mempertimbangkan karakteristik geografis negara kepulauan.
Dalam perkembangannya, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) bersama Rosatom membahas kesiapan regulasi rencana pengembangan floating nuclear power plant atau PLTN terapung di Indonesia.
Direktur Pengaturan Pengawasan Instalasi dan Bahan Nuklir Bapeten Nur Syamsi Syam menyatakan pembahasan floating power unit (FPU 100) dari Rusia telah berlangsung sejak awal 2026, melalui serangkaian lokakarya dan rapat koordinasi bersama Rosatom serta kementerian dan lembaga terkait.
Nur menjelaskan pertemuan tersebut bertujuan mengidentifikasi berbagai aspek regulasi, perizinan, dan koordinasi lintas sektor dalam pengembangan PLTN terapung di Indonesia
“Kami sangat menghargai komitmen rekan-rekan kami dari Rusia dan menyambut baik berbagi pengalaman mereka mengenai kerangka regulasi, yang memberikan masukan berharga dalam pengembangan kerangka regulasi Indonesia untuk pemanfaatan energi nuklir secara damai, khususnya untuk PLTN terapung,” kata Plt Ketua Bapeten Zainal Arifin dalam siaran pers, Jumat (3/7/2026).
(azr/ros)
































