Bursa Saham Asia mendapati katalis positif setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecilkan kemungkinan konflik berkepanjangan dengan Iran.
Pernyataan Trump diartikan sebagai perang tersebut bakal segera mereda, membalikkan sentimen pasar bahwa ketegangan yang sebelumnya terjadi di Selat Hormuz.
Trump mengatakan serangan baru terhadap Iran kemungkinan akan berlangsung singkat. Ia kembali menegaskan klaimnya AS telah menguasai Selat Hormuz yang sangat penting, setelah pertempuran terbaru mendorong kenaikan harga energi dan kembali memicu kekhawatiran akan perang yang berkepanjangan.
Ketika ditanya pada Rabu (2/9/2026) melansir Bloomberg News, berapa lama kampanye pengeboman tersebut dapat berlangsung, Trump mengatakan kepada wartawan, “Saya rasa tidak akan terlalu lama,” tegas Trump.
“Kami menghancurkan seluruh peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz—sebagian bersifat defensif, sebagian ofensif,” kata Trump.
Berbagai sinyal positif tersebut turut menyeret pelemahan harga minyak mentah di pasar global, berdasarkan data Bloomberg per pukul 12:40 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tengah diperdagangkan di level US$89,92 per barel setelah turun lebih dari 1% pada sesi sebelumnya, sementara jenis Brent juga turun tajam 1,47% hingga berada di posisi US$94,29.
(fad)































