Logo Bloomberg Technoz

Tidak Terhenti

Kendati begitu, dia menegaskan dampak dari fenomena El Niño tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP sampai terhenti ataupun melakukan pengurangan tenaga kerja.

“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.

Terpisah, MySteel melaporkan produsen kokas di kawasan IMIP terdampak kekeringan akibat fenomena El Niño, hingga membuat produksinya menurun.

Berdasarkan survey yang dilakukan MySteel, beberapa produsen kokas menerapkan tambahan pembatasan produksi sebesar 10%—20% di atas pengurangan produksi yang sudah terjadi.

Dengan begitu, tingkat produksi kokas di kawasan IMIP hanya dapat mencapai 50%—60% dari kapasitas.

“Produsen kokas, yang mengoperasikan pabrik di Kawasan Industri Tsingshan di Provinsi Sulawesi Tengah, makin memperdalam pemangkasan produksi seiring kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño yang makin memperketat pasokan air yang dibutuhkan untuk produksi, menurut survei terbaru Mysteel,” tulis MySteel dalam risetnya.

Sebelumnya, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional akibat turunnya pasokan listrik imbas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang kekurangan air.

Adapun, smelter nikel BMS tercatat memiliki izin usaha industri (IUI) yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian, karena tidak terintegrasi langsung dengan kepemilikan izin usaha pertambangan (IUP) di bawah Kementerian ESDM.

Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi tersebut membuat PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja.

Kendati begitu, para pekerja yang dirumahkan disebut bakal tetap menjadi karyawan aktif dan mendapatkan hak serta kewajibannya.

Turunnya pasokan listrik gegara PLTA kekurangan air dikabarkan menyebabkan smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.

Kalla Group selaku induk usaha PT BMS belum membalas permintaan konfirmasi dan tanggapan yang dikirimkan Bloomberg Technoz.

Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya mencatat kekeringan yang terjadi di  wilayah Luwu membuat pasokan air di wilayah tersebut terbatas. Walhasil, kebutuhan air untuk PLTA menjadi tidak mencukupi.

SMM juga mengonfirmasi kondisi tersebut membuat penurunan produksi pada smelter di kawasan Luwu, yakni PT BMS.

“Pasokan air dan listrik ke beberapa pabrik peleburan nikel setempat terganggu, yang mengakibatkan pengurangan produksi,” tulis SMM dalam riset terbarunya, dikutip dari situs resminya Jumat (28/8/2026).

Lebih lanjut, SMM mencatat kekeringan tersebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan IMIP.

Begitu juga di wilayah lainnya seperti di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku. Kekeringan di wilayah tersebut disebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan itu.

“Menurut SMM, kondisi kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño di sekitar kawasan IMIP di Indonesia mungkin turut menyebabkan kekurangan air di wilayah tersebut, mengingat dilaporkan curah hujan yang sangat sedikit selama sebulan terakhir,” tegas SMM.

PT IMIP sendiri merupakan perusahaan pengelola kawasan industri berbasis nikel yang terletak di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Kawasan Industri IMP terintegrasi dengan produk utama yang dimiliki berupa nikel, baja nirkarat, baja karbon, dan yang terbaru adalah bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Kawasan Industri IMIP adalah kerja sama antara perusahaan BintangDelapan Group dari Indonesia dengan perusahaan Tsingshan Steel Group dari China.

Tsingshan Group sendiri adalah perusahaan terbesar di dunia yang bergerak dalam bidang pengolahan nikel dan sudah menguasai teknologi pengolahan yang lengkap dengan teknologi yang maju dan modern.

Pemegang saham IMIP didominasi oleh Shanghai Decent Investment Group dengan porsi 49,69%, PT Sulawesi Mining Investment (SMI) sebesar 25%, dan PT Bintang Delapan Investama sebesar 25,31%.

Sejak awal mula proyek industri nikel ini, nilai investasi di kawasan ini telah mencapai US$7,1 miliar. Di sana, terdapat setidaknya 11 smelter nikel dengan kapasitas 40 line.

Menyitir data Auriga Nusantara, terdapat setidaknya terdapat 9 perusahaan asal China di IMIP, baik yang mengoperasikan pabrik pengolahan atau smelter maupun pembuatan baja nirkarat dan juga bahan baku baterai kendaraan listrik.

Perusahaan itu a.l. PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS); Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS); Tsingshan Steel Indonesia (TSI); Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy (IRNC); PT Dexin Steel Indonesia (DSI); Hengjaya Nickel Industry (HNI); Ranger Nickel Industry (RNI); Huayue Nickel & Cobalt (HYNC); PT Gunbuster Nickel Industry; dan Qing Mei Bang New Energy Materials Indonesia (QMB).

(azr/wdh)

No more pages