Logo Bloomberg Technoz

Pertimbangan GoPro Memilih Merger dengan Starman Optical

Merinda Faradianti
02 September 2026 11:45

GoPro. dok: Bloomberg
GoPro. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - GoPro Inc. sepakat melakukan merger dengan Starman Optical Inc., perusahaan optik-fotonik swasta asal Amerika Serikat. Transaksi ini ditujukan untuk memperkuat struktur modal GoPro sekaligus memperluas bisnis perusahaan ke sektor infrastruktur AI, pemerintahan, pertahanan, dan aerospace, seperti yang dilaporkan di situs resmi perusahaan, dikutip Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan kesepakatan tersebut, pemegang saham GoPro akan menerima pembayaran tunai secara agregat sebesar US$285 juta atau US$1,14 per saham. Nilai tersebut masih dapat disesuaikan berdasarkan posisi modal kerja bersih GoPro saat transaksi ditutup.

Selain itu, pemegang saham GoPro juga akan mempertahankan kepemilikan sekitar 10% saham perusahaan gabungan setelah merger. Sementara itu, utang GoPro sekitar US$92 juta akan dilunasi sepenuhnya ketika transaksi ditutup. Dengan demikian, GoPro akan memiliki neraca yang secara substansial bebas utang setelah merger.

Dalam keterangannya GoPro menyatakan transaksi ini akan merekapitalisasi perusahaan, memperkuat neraca, dan memberikan ruang untuk investasi pertumbuhan. Perusahaan juga tetap akan tercatat di Nasdaq setelah merger.

Selama 24 tahun terakhir, GoPro telah mengembangkan berbagai teknologi pencitraan dengan mengandalkan teknologi optik dan sistem imaging. Perusahaan menyebut memiliki portofolio lebih dari 2.500 paten Amerika Serikat. Melalui merger, GoPro akan menggabungkan kemampuan tersebut dengan teknologi Starman yang memproduksi optical transceiver di AS.

Masuknya produk Starman ke dalam portofolio GoPro diklaim akan memperluas bisnis perusahaan dari kamera konsumen ke pasar infrastruktur AI yang dinilai memiliki pertumbuhan tinggi.

Selain itu, GoPro berencana memanfaatkan kemampuan optik dan imaging serta portofolio kekayaan intelektualnya untuk mengembangkan bisnis di sektor pertahanan, pemerintahan, robotika, dan aerospace. CEO Starman Holding Charles Tebele mengatakan teknologi optik dan imaging menjadi komponen penting bagi AI, keamanan nasional, dan perekonomian. 

Namun, lanjut Tebele, sebagian perangkat keras yang mendukung teknologi tersebut masih diproduksi di luar AS. Menurut dia, kedua perusahaan akan berupaya membawa kembali produksi komponen strategis tersebut ke AS.

“Penggabungan keahlian optik dan kekayaan intelektual GoPro dengan kemampuan transceiver Starman serta platform manufaktur di Amerika Serikat menciptakan peluang yang unik,” kata Tebele.

Pendiri sekaligus CEO GoPro Nicholas Woodman mengatakan merger tersebut akan memungkinkan perusahaan berkembang di pasar konsumen, komersial, dan pertahanan.

“Kami memperkirakan merger ini akan memungkinkan GoPro berkembang di pasar konsumen, komersial, dan pertahanan sebagai perusahaan imaging dan solusi optik AS,” kata Woodman.

Transaksi telah disetujui oleh Dewan Direksi GoPro dan Dewan Starman. Merger ditargetkan selesai pada akhir 2026, dengan sejumlah persyaratan, termasuk persetujuan regulator dan pemegang saham GoPro.

GoPro sendiri adalah produk yang dikenal luas berkat hasil pengembangan teknologi imaging dan optiknya, dimana keunggulan tersebut menjadi salah satu aset yang akan dibawa ke perusahaan hasil merger. Beberapa yang paling dikenal adalah action camera yang mendukung perekaman aktivitas bergerak, kemudian HyperSmooth atau sistem stabilisasi perekaman, ditambah imaging optik serta sudut visual 360 derajat.