Logo Bloomberg Technoz

Faisal menilai  tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih relatif tinggi hingga akhir 2026, seiring pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) dan sifat jangka pendek sebagian besar arus modal masuk, terutama ke SRBI.

Arus tersebut dapat berbalik dengan cepat jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish dari perkiraan. Pelemahan rupiah akan meningkatkan inflasi impor dan biaya input impor.

“Hal ini sudah tercermin dalam inflasi dari sisi penawaran yang melampaui inflasi dari sisi permintaan, menunjukkan meningkatnya risiko kenaikan biaya produsen, khususnya bahan baku impor, diteruskan ke harga konsumen,” katanya.

Dari sisi domestik, kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan diperkirakan mendukung pertumbuhan uang beredar (M2), yang dapat menambah tekanan inflasi.

Program MBG juga berpotensi meningkatkan permintaan pangan sehingga menciptakan risiko kenaikan inflasi pangan bergejolak, kecuali produksi pertanian dan ketahanan rantai pasok meningkat secara memadai.

“Selain itu, potensi terjadinya El Nino “Godzilla” perlu dipantau karena dapat mengganggu produksi pertanian, menaikkan harga pangan, dan memperkuat tekanan inflasi” katanya.

Sehingga, dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini, Ia memperkirakan inflasi utama mencapai sekitar 3,13% pada akhir 2026, dibandingkan 2,92% pada 2025.

“Namun, jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan menyebabkan kenaikan harga energi global yang berkepanjangan, inflasi dapat melampaui perkiraan saat ini,” tandanya.

Setali tiga uang, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menyebut bahwa data inflasi saat ini semakin menegaskan perbedaan antara inflasi domestik yang masih terkendali dan kondisi eksternal yang semakin menantang.

Menurut Irman, saat ini inflasi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) dan tidak menunjukkan tekanan berlebihan dari sisi permintaan.

“Sementara itu, kondisi eksternal lebih menantang karena surplus pada Juli relatif tipis dan sebagian terbantu oleh penurunan harga minyak, sementara tingginya impor terkait investasi terus menyerap sebagian besar penyangga dari perdagangan nonmigas,” katanya dalam keterangan tertulisnya yang diperoleh Bloomberg Technoz, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya meski inflasi mengalami peningkatan, namun tekanan yang mendasari inflasi tersebut masihlah terkendali karena kenaikan inflasi tahunan sebagian mencerminkan base effect, sementara inflasi secara bulanan yang sebesar 0,21% masih bisa dibilang moderat.

Sementara itu, penurunan harga BBM nonsubsidi dan penurunan biaya transportasi udara membantu menjaga inflasi harga yang diatur pemerintah pada 3,3% yoy.

(ell)

No more pages