Logo Bloomberg Technoz

“Investasi di Partners Group akan ditujukan untuk peluang direct lending di seluruh Asia, terutama Indonesia,” kata Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir dalam tanggapannya kepada Bloomberg.

“Kami memperkirakan investasi ini akan menghasilkan imbal hasil yang baik dan memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia,” ujar Sjahrir.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari mandat Danantara untuk berinvestasi di Indonesia maupun internasional. Ia menambahkan bahwa modal tersebut pada akhirnya akan dikembalikan ke Indonesia.

Perwakilan Partners Group menolak berkomentar.

Investasi Danantara di Partners Group merupakan sinyal terkuat sejauh ini bahwa lembaga dana kekayaan negara yang baru berusia 18 bulan tersebut—salah satu proyek unggulan Presiden Indonesia Prabowo Subianto—semakin memperluas upayanya untuk meningkatkan permodalan dengan masuk ke industri private credit global yang bernilai US$1,8 triliun.

Tahun lalu, Danantara merekrut mantan profesional investasi dari GIC Pte. Singapura untuk memimpin cakupan pasar privat globalnya.

Danantara mengawasi ratusan perusahaan milik negara dan mengendalikan aset yang menurut pejabat pemerintah bernilai sekitar US$900 miliar.

Pada Juni, perusahaan tersebut menghimpun US$1,5 miliar melalui penerbitan obligasi internasional pertamanya. Danantara juga telah berinvestasi pada aset di luar Indonesia.

Awal bulan ini, Danantara sepakat menginvestasikan US$2,5 miliar ke sebuah perusahaan patungan untuk bisnis JBS NV di Australia dan Selandia Baru, perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia.

Danantara menjadi sovereign wealth fund terbaru yang mengalokasikan dana ke pasar privat yang berkembang pesat.

Indonesia Investment Authority (INA) juga telah menyatakan minat untuk ikut mendanai transaksi bersama manajer private credit regional dan global, serta sovereign wealth fund lainnya.

Temasek Holdings Pte. dari Singapura membentuk platform private credit pada 2024 dengan portofolio awal sekitar S$10 miliar (US$7,9 miliar), yang terdiri dari investasi langsung dan dana kredit.

Tahun ini, Mubadala Investment Co. dari Abu Dhabi mengatakan tetap yakin terhadap investasi private credit-nya, meskipun kelas aset tersebut menghadapi sorotan yang semakin besar akibat penurunan imbal hasil dan kekhawatiran mengenai kualitas kredit.

Partners Group mengumumkan mandat senilai US$1 miliar tersebut awal bulan ini, tetapi tidak menyebutkan nama investor institusionalnya.

Saat itu, perusahaan mengatakan mandat tersebut akan berinvestasi pada peluang senior dan junior direct lending di kawasan Asia-Pasifik dan menggunakan struktur open-ended evergreen, yang memungkinkan investasi berlangsung tanpa tanggal jatuh tempo tetap.

Perusahaan yang mengelola aset lebih dari US$186 miliar tersebut menghadapi peningkatan penarikan dana oleh klien pada awal tahun ini.

Chairman Partners Group Steffen Meister mengatakan pada Juni bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengurangi ukuran keseluruhan sejumlah dana evergreen yang ditujukan bagi investor kaya.

Partners mengatakan pihaknya tengah mencari peluang investasi lebih lanjut di Asia, seiring para klien berupaya melakukan diversifikasi dari Amerika Serikat.

Perusahaan tersebut akan keluar dari investasi private credit-nya di merek minuman bubble tea Gong cha setelah Bain Capital membeli perusahaan asal Taiwan tersebut dari TA Associates bulan ini, menurut laporan Bloomberg sebelumnya.

(bbn)

No more pages