Sebelumnya, KPK melakukan penahanan terhadap Gatot Heroe Hernanda. Dia ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi terkait kepabeanan di Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Pelaksana tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menjelaskan penyidik juga menyita tiga unit kendaraan bermotor roda dua berjenis motor gede dan uang tunai dari Gatot dan pihak lainnya di lingkungan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
"Tiga unit kendaraan bermotor roda dua berjenis motor gede (moge) yaitu BMW tipe R Nine T Scrambler; Kawasaki tipe ZR900C; Triumph tipe Bonneville Bobber. Serta sejumlah uang tunai dalam bentuk valuta asing [valas] dolar Singapura SGD dan dolar Amerika Serikat dengan total kurang lebih Rp2,8 miliar," ujar Taufik dalam konferensi pers, Rabu (26/08/2026).
Konstruksi perkaranya adalah Pemilik PT Blueray John Field dipanggil oleh Kepala Seksi Intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Orlando Hamonangan pada Juli 2025.
Dalam pertemuan itu, John Field menjelaskan terkait kegiatan usaha korporasi miliknya serta meminta pihak Bea dan Cukai untuk memberikan informasi apabila ada atensi. Kemudian, diduga ada permintaan sejumlah uang dari Orlando untuk Subdit Penindakan dan Subdit Intelijen.
Beberapa hari setelahnya, John kembali dipanggil ke kantor pusat Bea dan Cukai untuk menemui Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (P2 DJBC) periode 2024-Januari 2026 Rizal dan Gatot.
Dalam pertemuan lanjutan tersebut, John Field meminta bantuan untuk memperlancar setiap proses kepabeanan (customs clearance) atas perusahaan miliknya. Sebagai tindak lanjut dari pembahasan tersebut, Rizal menawarkan John Field untuk bertemu langsung dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Djaka Budhi Utama.
Selanjutnya, terjadi pertemuan di sebuah hotel di Jakarta Pusat antara Djaka, Rizal, Gatot, serta sejumlah pihak lainnya dari Bea dan Cukai dengan beberapa pengusaha, salah satunya John Field. Setelah pertemuan tersebut, John Field kembali dihubungi Orlando untuk membahas besaran uang yang harus disiapkan olehnya. Adapun, Orlando menyampaikan sejumlah permintaan dengan nominal berbeda-beda, yakni untuk BC1 senilai Rp2 miliar, BC2 sebesar Rp1 miliar, dan BC3 sejumlah Rp500 juta.
Beberapa hari berselang, Orlando mengubah nominal permintaan kepada John Field menjadi BC1 senilai Rp3 miliar, BC2 sebesar Rp2 miliar, dan BC3 sejumlah Rp1 miliar.
Atas permintaan tersebut, John kemudian menyanggupinya dan memerintahkan stafnya menyetorkan ‘jatah uang bulanan’ dalam bentuk dolar Singapura untuk BC1, BC2, BC3, serta sejumlah pegawai di Subdit Intelijen termasuk Orlando dan Subdit Penindakan.
Terkait jatah untuk Subdit Penindakan diberikan melalui Kepala Seksi Penindakan Kepabeanan I Enov Puji Wijanarko, termasuk jatah untuk Gatot yang diserahkan di ruang kerjanya. Kemudian, Rizal turut memberikan arahan kepada stafnya di Direktorat P2 DJBC lewat pernyataan ”Kalau ada apa-apa di lapangan Blueray dibantu ya”.
Maksud dari penyampaian Rizal ini agar mempercepat setiap proses pemeriksaan fisik kontainer milik perusahaan John Field agar tidak menunggu terlalu lama.
(lav)






























