"Maka ini kesempatan buat Pak Menteri UMKM supaya semakin banyak UMKM ini menjadi go digital, apalagi produk-produk yang berupa artisan," tutur Airlangga.
Ia menambahkan bahwa integrasi sistem pembayaran antarnegara menjadi salah satu hasil cepat (low-hanging fruit) dari kesepakatan DEFA.
Saat ini, sistem pembayaran QRIS yang sudah terkoneksi di lima negara ASEAN diharapkan dapat diperluas ke seluruh anggota ASEAN untuk memberikan efisiensi biaya bagi UMKM.
"Nah, kita sudah punya payment system yang QRIS yang diharapkan bisa digunakan di seluruh negara ASEAN, kali ini baru di dari lima negara ASEAN, sehingga bagi UMKM kalau menggunakan QRIS mendapatkan keuntungan karena tidak ada dalam tanda petik merchant discount," terangnya.
Penerapan QRIS tanpa potongan biaya pedagang tersebut dinilai mempermudah transaksi pembayaran digital sekaligus mendukung aktivitas ekspor produk lokal.
"Jadi biayanya untuk pedagang adalah nol. Sehingga dengan demikian kalau ini bisa menggunakan QRIS untuk payment dan juga bisa digunakan tadi untuk ekspor, maka tentunya bagi para pedagang bisa difasilitasi dengan digital payment ini," kata Airlangga
.Airlangga meyakini digitalisasi pembayaran dan skema DEFA akan membantu produk artisan lokal menembus pasar global tanpa terhambat hambatan nontarif maupun efisiensi standarisasi.
"Sehingga produk-produk artisan ini kan bisa menembus pasar global tanpa harus dihambat oleh berbagai non-tariff barrier termasuk berbagai standarisasi," pungkasnya.
(ain)

































