Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan seiring berjalannya waktu terdapat perubahan prioritas antara Indonesia dan Korea Selatan dalam kerja sama industri pertahanan. Namun, kata Nabyl, poin utamanya adalah Indonesia dan Korea Selatan menyelesaikan kerja sama di sektor tersebut untuk pengembangan bersama KF-21. 

"Setelah penandatanganan kesepakatan untuk melakukan kerja sama bersama ini, terdapat sejumlah hal yang terjadi baik di Indonesia maupun Korea Selatan, sehingga prioritas masing-masing negara mungkin telah mengalami perubahan seiring berjalannya waktu," ujar Nabyl. 

Perlu diketahui, pembahasan mengenai kemitraan KF-21/IF-X pernah terjadi di sela kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada April 2026. Dalam pernyataan bersama Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, kedua pemimpin merasa puas mengenai pengembangan bersama pesawat tempur KF-21/IF-X, yang telah berlangsung selama lebih dari 10 tahun antara kedua negara. Kala itu, kedua pemimpin mengatakan pengembangan bersama pesawat tempur KF-21/IF-X dijadwalkan selesai pada Juni 2026. 

Kemudian, pada Juni 2026, Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia tak lagi terlibat dalam produksi bersama pesawat tempur KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. Dalam hal ini, Indonesia justru akan memperoleh pesawat tempur tersebut melalui skema pembelian langsung dari pemerintah Korea Selatan.

Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Birgjen Rico Ricardo Sirait mengatakan pemerintah menilai bahwa setiap kerja sama pertahanan harus memberikan manfaat yang optimal bagi Indonesia. 

“Hal ini khususnya dalam aspek alih teknologi, penguasaan kemampuan industri, dan nilai tambah bagi industri pertahanan nasional,” ujar Rico saat dihubungi Bloomberg Technoz, dikutip Senin (29/06/2026). 

Dia mengatakan, evaluasi terhadap program KF-21 menunjukkan perlunya penyesuaian kebijakan agar hasil yang diperoleh benar-benar sebanding dengan investasi yang dikeluarkan dan kebutuhan strategis pertahanan Indonesia. Menurutnya, hal tersebut merupakan hasil evaluasi internal pemerintah dan tidak terkait dengan isu lain yang berkembang di publik

Tak Pengaruhi Kerja Sama

Uhm mengatakan Indonesia dan Korea Selatan memang sempat mengalami kendala dalam kerja sama ini. Namun, keduanya berhasil mencapai kesepakatan dan persetujuan bersama. Jakarta dan Seoul juga berhasil menyesuaikan sejumlah ketentuan dan mencapai kesepakatan mengenai bagaimana keduanya akan melanjutkan proyek pengembangan bersama KF-21/IF-X.

"Pada akhirnya, kami mencapai apa yang dapat kami definisikan sebagai penyelesaian proyek yang berhasil bagi kedua belah pihak. Jadi, jika Anda bertanya kepada saya, apakah hal tersebut akan membuat Korea enggan melanjutkan kerja sama dengan Indonesia di masa depan? Jawaban saya adalah tidak. Justru sebaliknya," ujarnya. 

"Kami telah melewati berbagai kendala tersebut melalui proyek ini. Bagi kami, pengalaman berhasil melewati seluruh proses itu merupakan aset yang sangat berharga. Kami mampu keluar dari proses tersebut sebagai mitra yang memiliki rasa saling percaya. Menurut saya, itu merupakan contoh yang sangat baik. Dan saya rasa kami puas dengan hasil dari proyek pengembangan bersama tersebut."

Dia meyakini kerja sama pertahanan Indonesia dan Korea Selatan akan baik ke depannya. Kerja sama tersebut juga akan mencakup pelatihan sumber daya manusia. Selain itu, kerja sama akan mencakup sistem pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan atau maintenance, repair, and overhaul (MRO) yang lebih berkelanjutan.

"Jika seluruh aspek tersebut digabungkan, saya pikir kita sudah memiliki dasar untuk membangun kemitraan jangka panjang yang lebih berkelanjutan," ujarnya.

(dov/frg)

No more pages