Agustus Melambat
Namun, memasuki Agustus 2026, tingkat konsumsi Pertalite mulai sedikit melambat. Wahyudi menyebutkan hal tersebut dipengaruhi oleh koreksi harga Pertamax yang turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter, sehingga tingkat konsumsi bensin nonsubsidi mulai kembali stabil.
“Jadi, artinya kenaikan konsumsi Pertalite yang rata-rata saat ini menjadi 84.368 kl ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsinya Pertamax menjadi konsumsi Pertalite,” jelasnya.
Hingga 20 Agustus 2026, realisasi penyaluran Pertalite tercatat telah menyentuh angka 18,23 juta kl. Porsi tersebut menyerap sekitar 62,28% dari total prognosis konsumsi Pertalite 2026 yang ditargetkan sebanyak 29,27 juta kl.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Mega Satria memproyeksikan penyaluran BBM dan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi berpotensi melampaui kuota hingga akhir tahun jika melihat tren konsumsi saat ini.
“Dengan tren konsumsi saat ini, prognosis kami hingga akhir tahun menunjukkan potensi penyaluran di atas kuota dan tentunya data ini akan terus bergerak dan kami terus berkolaborasi dengan Kepala BPH Migas dan jajarannya,” ungkap Mega.
Mega menyampaikan hingga akhir Juli 2026, Pertamina mencatat realisasi penyaluran Solar bersubsidi telah mencapai 11,18 juta kl dari kuota 18,36 juta kl. Sementara itu, penyaluran Pertalite telah menembus 16,54 juta kl dari alokasi kuota 28,69 juta kl.
Untuk komoditas LPG 3 kg, realisasi penyaluran telah mencapai 5,05 juta metrik ton (mt) dari batas kuota 8 juta mt. Di sisi lain, penyaluran minyak tanah atau kerosene tercatat masih stabil dan sesuai alokasi.
Lebih lanjut, Mega memerinci estimasi lonjakan penyaluran melebihi kuota akhir tahun diperkirakan mencapai 9,4% untuk Solar, 1,7% untuk Pertalite, dan 8,5% untuk LPG 3 kilogram.
“Namun, data yang kami miliki [kenaikannya] adalah sekitar 9,4% untuk Solar, 1,7% untuk Pertalite, dan 8,5% untuk LPG 3 kilogram,” jelasnya.
Mega menambahkan peningkatan konsumsi Solar dan Pertalite berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I-2026 yang berkisar antara 5% hingga 5,6%.
Menurutnya, dorongan ekonomi ini dipicu oleh tingginya aktivitas sektor industri, pergerakan logistik, kegiatan ekspor-impor, serta pertumbuhan populasi kendaraan pribadi.
Selain itu, maraknya pariwisata domestik, mulainya musim panen dan melaut pada semester II, hingga tingginya kebutuhan transportasi publik turut mendorong kenaikan konsumsi BBM.
Sebagai informasi, harga BBM nonsubsidi Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026. Memasuki Agustus 2026, harganya terkoreksi menjadi Rp15.950 per liter.
Sementara itu, harga Pertalite yang mendapat kompensasi dari pemerintah tetap dipertahankan pada level Rp10.000 per liter.
(wdh)
































