Logo Bloomberg Technoz

Mega menegaskan Pertamina terus menjaga keandalan pasokan energi nasional dengan tetap mengendalikan volume penyaluran BBM.

“Bapak Kepala SKK dan juga Kepala BPH Migas, menyambung apa yang sudah disampaikan dapat kami sampaikan bahwa Pertamina senantiasa konsisten menjaga ketahanan energi nasional dengan tetap mengupayakan pengendalian penyaluran BBM,” jelasnya.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengonfirmasi negara bakal memberikan kompensasi energi atas selisih nilai keekonomian Pertamax dengan harga jualnya, usai perseroan menahan harga bensin RON 92 nonsubsidi tersebut sejak 1 April 2026.

Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa harga keekonomian Pertamax sebenarnya telah menyentuh kisaran Rp17.000 per liter. Namun, berdasarkan hasil koordinasi bersama pemerintah, Pertamina memutuskan untuk menjaga harga jual ecerannya di level Rp12.300 per liter.

“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an per liter],” kata Roberth saat dihubungi Selasa (12/5/2026).

Langkah penahanan harga Pertamax ini memunculkan selisih nilai jual yang untuk sementara waktu ditanggung oleh Pertamina Patra Niaga, sebelum nantinya ditagihkan dan diganti oleh pemerintah melalui skema dana kompensasi energi.

“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” tegas dia.

Roberth menambahkan bahwa penahanan harga Pertamax ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah, mengingat BBM Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) seperti Pertalite memiliki harga asli tanpa subsidi sebesar Rp16.088 per liter.

Kenapa? Karena Pertamax ada untuk digunakan juga bagi masyarakat [kelas] menengah yang mampu. Sementara itu, Turbo dan lain-lain adalah untuk yang menengah ke atas,” kata Robert.

Dia memaparkan skema penetapan harga Pertamax berpatokan pada pergerakan BBM nonsubsidi kelas atas seperti Pertamax Turbo. Ketika harga Pertamax Turbo naik signifikan mencapai Rp19.900 per liter, harga keekonomian Pertamax seharusnya ikut berada di kisaran harga tersebut.

“Pada saat Pertamax harga Rp12.300, maka [Pertamax] Turbo di harga Rp13.100. Selisihnya tipis,” tegas Roberth.

Untuk diketahui, Pertamina Patra Niaga mencatat penyesuaian harga pada sejumlah BBM jenis nonsubsidi pada Senin (4/5/2026). Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter, Dexlite naik menjadi Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex dipatok pada angka Rp27.900 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 masing-masing dipertahankan pada kisaran Rp12.300 dan Rp12.900 per liter.

Robert menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi selain Pertamax murni mengikuti evaluasi harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah di pasar internasional.

"Penyesuaian ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada mekanisme keekonomian, dengan mempertimbangkan dinamika harga minyak mentah dunia, harga produk olahan di pasar internasional, serta fluktuasi nilai tukar rupiah," ujar Roberth dalam siaran pers, Senin (4/5/2026).

Untuk diketahui, per kuartal I-2026, Kementerian Keuangan melaporkan belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp118,7 triliun, melonjak 266,5% secara year on year (yoy), seiring dengan perubahan skema pencairan kompensasi ke Pertamina dan PLN dengan skema bulanan.

Perinciannya, belanja subsidi energi kuartal pertama tahun ini mencapai senilai Rp52,2 triliun, sedangkan kompensasi Rp66,5 triliun.

Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipagu senilai Rp381,3 triliun untuk BBM, gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg, dan listrik.

(smr/wdh)

No more pages