Logo Bloomberg Technoz

Realisasi Penyaluran

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Pertamina (Persero) Mega Satria memaparkan realisasi penyaluran komoditas energi bersubsidi hingga akhir Juli 2026 masih sesuai dengan kuota yang dialokasikan.

Mega melaporkan bahwa LPG 3 kg telah tersalurkan sebanyak 5,05 juta metrik ton dari kuota sepanjang tahun ini sebasar 8 juta metrik ton.

Adapun, penyaluran Solar subsidi telah mencapai 11,18 juta kiloliter dari total kuota 18,36 juta kiloliter, dan Pertalite terealisasi sebesar 16,54 juta kiloliter dari kuota 28,69 juta kiloliter. 

“Memasuki 2026 per akhir Juli, LPG 3 kilogram mencapai 5,05 juta metrik ton dari kuota 8 juta metrik ton. Lalu realisasi Solar mencapai 11,18 juta kiloliter dari kuota 18,36 juta kiloliter. Pertalite mencapai 16,54 juta kiloliter dari kuota 28,69 juta kiloliter. Minyak tanah berjalan sesuai dengan kuota,” papar Mega.

Mega menambahkan bahwa pihaknya mencatat adanya dinamika potensi kenaikan konsumsi energi bersubsidi. Data Pertamina menunjukkan estimasi pergerakan potensi kelebihan konsumsi sebesar 8,5% untuk LPG 3 kg, 9,4% untuk Solar dan 1,7% untuk Pertalite. 

“Data [potensi kelebihan] yang kami miliki adalah sekitar 8,5% untuk LPG 3 kilogram, 9,4% untuk Solar dan 1,7% untuk Pertalite,” tambahnya.

Mega menerangkan peningkatan lonjakan permintaan LPG 3 kg terutama disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi nasional, serta antisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.

“Pendorong utama dari peningkatan LPG 3 kg adalah pertumbuhan penduduk nasional serta pertumbuhan ekonomi yang serupa, dan kebutuhan menjaga ketersediaan menjelang periode Natal dan Tahun Baru di akhir tahun ini,” pungkasnya.

Sementara itu, peningkatan konsumsi Solar dan Pertalite dipicu oleh pesatnya aktivitas sektor industri, logistik ekspor-impor, pertambahan kendaraan pribadi, peningkatan pariwisata domestik, hingga dimulainya musim panen, kegiatan melaut, serta kebutuhan transportasi publik di semester kedua.

“Hal ini didorong oleh pertumbuhan sektor industri dan logistik termasuk kegiatan ekspor-impor, pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi, peningkatan aktivitas pariwisata domestik, serta mulainya musim panen dan melaut pada semester kedua. Kami juga mencatat kebutuhan tambahan dari sektor transportasi publik,” jelasnya.

Untuk diketahui, total anggaran subsidi energi dalam RAPBN 2027 dipagu Rp272,9 triliun, naik sekitar 20,1% dibandingkan dengan outlook APBN 2026 yang dipatok Rp227,3 triliun.

Untuk anggaran subsidi LPG 3 Kg dicanangkan senilai Rp114,1 triliun, naik 26,22% dari outlook APBN 2026 senilai Rp90,4 triliun.

Sementara itu, volume kuota subsidi LPG 3 Kg dalam RAPBN 2027 direncanakan 8,94 juta ton, naik 11,75% dari outlook APBN 2026 sebanyak 8 juta ton.

(smr/wdh)

No more pages