Dalam materi edukasi yang disampaikan Rista, pinjaman sebaiknya tidak dilihat hanya dari pertanyaan “berapa dana yang bisa didapat”. Konsumen juga perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yakni berapa jumlah yang harus dikembalikan, berapa lama kewajiban berlangsung, berapa cicilan yang harus dibayar, kapan jatuh tempo, berapa bunga yang dikenakan, serta bagaimana dampaknya terhadap cash flow.
Cicilan Sama atau Lebih Besar di Awal?
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pola pembayaran. Dalam materi edukasinya, terdapat ilustrasi perbandingan antara skema cicilan flat dan front-loading.
Sebagai contoh, pinjaman sebesar Rp5 juta dengan total pengembalian Rp6 juta dan tenor 90 hari dapat memiliki pola pembayaran yang berbeda. Pada skema flat, pembayaran digambarkan sebesar Rp2 juta pada setiap periode. Sementara pada skema front-loading, cicilan pertama mencapai Rp4,5 juta, kemudian turun menjadi Rp1 juta dan Rp500 ribu pada periode berikutnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa nominal cicilan dan waktu pembayaran perlu diketahui sejak awal. Pada cicilan yang relatif sama, pengguna dapat lebih mudah memperkirakan alokasi pendapatan untuk kebutuhan rutin dan kewajiban pinjaman. Materi tersebut juga menggambarkan pola cicilan flat sebagai pembayaran yang lebih mudah direncanakan karena nominalnya sama pada setiap periode.
“Skema seperti ini sering terabaikan dan tanpa disadari dapat mengganggu pengaturan arus keuangan karena jumlah pelunasan yang berbeda-beda, terutama bagi masyarakat yang memanfaatkan pinjaman untuk kegiatan produktif atau yang mengandalkan gaji setiap bulan. Akibatnya, risiko gagal bayar meningkat, bukan selalu karena konsumen tidak mampu, melainkan karena terburu-buru dan kurang teliti ketika mengambil keputusan,” jelas Rista.
Hitung Kemampuan Bayar Sebelum Mengambil Pinjaman
Perencanaan keuangan pada dasarnya dimulai dari pengelolaan arus kas. Materi edukasi Rista menggambarkan bahwa pengelolaan keuangan mencakup pengendalian pengeluaran sehari-hari, pengurangan utang, serta upaya membangun arus kas yang stabil. Setelah fondasi tersebut terbentuk, seseorang dapat mulai membangun dana darurat, tabungan, asuransi, hingga investasi.
Ilustrasi budgeting dalam materi tersebut juga menunjukkan bagaimana cicilan dapat mengambil porsi tertentu dari pendapatan. Pada contoh dengan pendapatan Rp10 juta per bulan, cicilan utang sebesar Rp2 juta atau 20% dari pendapatan ditempatkan bersama kebutuhan lain seperti makan, belanja bulanan, transportasi, serta tabungan dan investasi.
Artinya, sebelum menyetujui pinjaman, calon pengguna perlu melihat posisi cicilan dalam keseluruhan anggaran. Jangan sampai pembayaran pinjaman membuat kebutuhan pokok atau kewajiban lain tidak lagi memiliki ruang yang cukup.
“Selain menghitung kemampuan bayar, pastikan sebelum setuju: berapa jumlah cicilan, kapan jatuh tempo, dan apakah nilainya tetap hingga akhir tenor,” ujar Rista.
“Buka-Bukaan” Dorong Konsumen Lebih Paham Pinjaman
Kebutuhan terhadap informasi yang jelas semakin relevan di tengah pertumbuhan penggunaan layanan pinjaman daring. Data yang tercantum dalam materi edukasi menunjukkan total pengguna pinjaman daring pada 2026 mencapai 146,5 juta akun, sementara outstanding pinjaman tercatat Rp105,14 triliun per Juni 2026.
Besarnya penggunaan tersebut membuat literasi dan pemahaman konsumen menjadi bagian penting dalam perkembangan industri pembiayaan digital. Konsumen bukan hanya perlu mengetahui nominal dana yang diterima, tetapi juga seluruh kewajiban yang melekat pada pinjaman.
Melalui kampanye “Buka-Bukaan” dengan tema “Gak Ada Udang di Balik Batu”, AdaKami mendorong transparansi informasi agar konsumen dapat memahami skema pinjaman sebelum mengambil keputusan. Pesan tersebut menekankan bahwa konsumen perlu melihat pinjaman secara utuh, bukan sekadar dari nominal dana yang diterima atau kecepatan pencairan.
Pada akhirnya, pinjaman dapat menjadi salah satu instrumen keuangan ketika digunakan secara terukur dan sesuai kemampuan. Namun, keputusan untuk meminjam perlu diawali dengan pemahaman mengenai kewajiban yang akan muncul setelah dana diterima.
Seperti pesan Rista dalam materi edukasinya, “Sebelum meminjam, pahami dulu. Karena keputusan finansial yang baik selalu dimulai dari informasi yang jelas.”
(tim)
































