Logo Bloomberg Technoz

BRI Kembali ke Jalur Pertumbuhan, Laba Tembus Rp31,2 Triliun


(Dok. BRI)
(Dok. BRI)

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali menunjukkan akselerasi pertumbuhan kinerja hingga akhir Triwulan II 2026. Setelah melalui periode transformasi bisnis dan penguatan fundamental, perseroan mencatat pertumbuhan laba sekaligus peningkatan kualitas aset.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kinerja hingga Juni 2026 menunjukkan bahwa strategi transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis dan kinerja keuangan.

Hingga akhir Triwulan II 2026, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa mesin pertumbuhan BRI mulai kembali bergerak dengan dukungan fundamental yang semakin sehat.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” ujar Hery.

Kinerja tersebut dicapai ketika ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30%, sedangkan inflasi tercatat 3,34%.

Di tengah kondisi tersebut, aktivitas bisnis UMKM juga menunjukkan penguatan. Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026.

Menurut Hery, kondisi tersebut memberikan ruang optimisme bagi BRI karena UMKM masih menjadi bagian utama dari bisnis perseroan sekaligus fondasi penting perekonomian nasional.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ungkap Hery.

Transformasi Mulai Mengembalikan Momentum Pertumbuhan

Untuk mengembalikan momentum pertumbuhan, BRI menjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite. Strategi tersebut diarahkan pada dua agenda utama, yakni memperkuat funding franchise serta melakukan penyegaran terhadap bisnis inti sekaligus membangun new core sebagai sumber pertumbuhan baru.

Pada sisi pendanaan, BRI berupaya memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. Perseroan juga mengoptimalkan kanal digital, mulai dari BRImo, QRIS, akuisisi merchant hingga BRILink Agen.

Penguatan transaksi digital tersebut berjalan beriringan dengan strategi memperkokoh klaster bisnis, integrasi value chain, serta penetrasi One BRI Solution. Dengan strategi tersebut, BRI berupaya membangun sumber pertumbuhan yang lebih terdiversifikasi.

Pada bisnis mikro, perseroan melakukan penyempurnaan proses bisnis, memperkuat kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta menerapkan manajemen risiko yang semakin granular.

Langkah tersebut menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset. Dengan demikian, pertumbuhan tidak hanya dikejar dari sisi volume, tetapi juga diarahkan agar menghasilkan profitabilitas yang berkelanjutan.

Dari sisi new core, BRI memperluas pertumbuhan melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting, serta pengembangan layanan bullion bank.

Hasilnya mulai terlihat pada sejumlah indikator utama. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% yoy.

Pertumbuhan aset tersebut terutama didorong oleh kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun. Pada saat yang sama, Dana Pihak Ketiga mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% yoy.

Pertumbuhan bisnis juga mendorong peningkatan pendapatan. Net interest income BRI naik 9,9% yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit atau PPOP meningkat 12,8% yoy menjadi Rp65,7 triliun.

Pertumbuhan Kembali dengan Fundamental Lebih Sehat

Hery menekankan bahwa kembalinya pertumbuhan BRI tidak dapat dilepaskan dari perbaikan fundamental. Sejumlah indikator menunjukkan perseroan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas aset di tengah ekspansi bisnis.

Cost of Fund secara bank only turun dari 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4% pada periode yang sama 2026.

Efisiensi operasional juga membaik. Cost to Income Ratio turun dari 41,9% menjadi 39,2%. Dari sisi kualitas aset, rasio Non-Performing Loan membaik dari 3,0% menjadi 2,9%.

Cost of Credit juga turun dari 3,4% menjadi 3,1%. Perbaikan berbagai indikator tersebut memperkuat ruang bagi BRI untuk menghasilkan pertumbuhan dengan risiko yang tetap terkelola.

Pada saat yang sama, kemampuan perseroan menghasilkan imbal hasil semakin kuat. Return on Asset tetap berada di kisaran 2,7%, sementara Return on Equity meningkat dari 16,6% menjadi 18,8%.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” lanjut Hery.

UMKM Tetap Menjadi Mesin Utama

Meski memperluas sumber pertumbuhan, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai core business. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% yoy.

Porsi tersebut setara sekitar 75,1% dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group. Angka itu memperlihatkan bahwa diversifikasi bisnis tidak mengubah posisi UMKM sebagai fondasi utama perseroan.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ekspansi bisnis yang kami lakukan akan tetap berpijak pada upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,” kata Hery.

Selain pembiayaan, BRI terus memperkuat ekosistem pemberdayaan. Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan.

Program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha. Sementara itu, LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM dan Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu UMKM.

Dari sisi pembiayaan bersubsidi, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur sepanjang Januari hingga Juni 2026. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

Hery menilai pembiayaan dan pemberdayaan merupakan dua instrumen yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujar Hery.

Dengan capaian tersebut, BRI memasuki fase pertumbuhan baru dengan fondasi yang dinilai lebih kuat. Transformasi yang sebelumnya menjadi agenda strategis kini mulai dikonversikan menjadi pertumbuhan kredit, pendapatan, laba, efisiensi, dan kualitas aset.

“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.