Logo Bloomberg Technoz

Selain sesi reguler, terdapat pula pre-market dan after-hours. Pre-market berlangsung sebelum sesi utama dibuka, sedangkan after-hours tersedia setelah perdagangan reguler berakhir.

Meski terdapat sesi tambahan tersebut, perdagangan saham konvensional tetap tidak berlangsung tanpa batas. Ketika akhir pekan atau hari libur bursa tiba, NYSE dan Nasdaq tidak memproses transaksi reguler.

Apakah Saham US Benar-Benar Buka 24 Jam?

Untuk saham konvensional yang tercatat langsung di NYSE atau Nasdaq, jawabannya adalah tidak. Bursa tersebut tetap mempunyai jam operasional dan hari perdagangan yang telah ditentukan.

Perbedaan waktu antara New York dan Indonesia sering membuat jadwal saham AS terlihat tidak biasa. Investor di Indonesia harus melakukan transaksi pada malam hingga dini hari jika ingin mengikuti jam perdagangan reguler.

Kondisi tersebut berbeda dengan pasar aset kripto yang dapat beroperasi sepanjang waktu. Karena itu, istilah saham US 24 jam tidak dapat digunakan begitu saja untuk menggambarkan perdagangan saham konvensional di bursa Amerika.

Meski demikian, perkembangan teknologi finansial menghadirkan instrumen yang memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap saham AS di luar jam bursa. Salah satunya adalah saham tertokenisasi atau tokenized stocks.

Saham tertokenisasi merupakan instrumen digital berbasis blockchain yang dirancang untuk mengikuti nilai saham acuan. Transaksi dilakukan melalui jaringan digital dan bukan melalui mekanisme perdagangan langsung di NYSE atau Nasdaq.

Karena menggunakan jaringan blockchain, instrumen tersebut dapat tersedia untuk diperdagangkan lebih lama. Dalam skema tertentu, transaksi bahkan dapat berlangsung 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.

Artinya, investor dapat melakukan transaksi pada periode ketika bursa saham Amerika sedang tutup, termasuk akhir pekan atau hari libur. Namun, karakteristik tersebut tidak membuat token tersebut menjadi saham konvensional yang diperdagangkan langsung di NYSE atau Nasdaq.

Cara Trading Saham AS di Luar Jam Bursa

Bagi investor Indonesia yang tertarik menggunakan instrumen saham tertokenisasi, langkah awalnya adalah memilih platform yang menyediakan produk tersebut dan memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku.

Setelah membuat akun, pengguna perlu menyelesaikan proses verifikasi identitas atau Know Your Customer. Tahap ini diperlukan sebagai bagian dari prosedur pembukaan akun pada platform investasi.

Berikutnya, pengguna dapat melakukan pengisian saldo sesuai metode pembayaran yang tersedia. Setelah saldo tersedia, pengguna dapat memilih aset yang merepresentasikan saham AS yang ingin diperdagangkan.

Investor kemudian dapat memantau perubahan harga dan melakukan transaksi sesuai mekanisme platform. Karena instrumen tersebut berada pada ekosistem digital, waktu perdagangan dapat berbeda dengan jam operasional bursa saham konvensional.

Salah satu platform yang menghadirkan akses terhadap saham US berbasis tokenisasi adalah Pintu. Layanan tersebut menawarkan instrumen yang memungkinkan pengguna memperoleh eksposur terhadap sejumlah saham Amerika melalui mekanisme aset digital.

Namun, investor perlu membaca ketentuan produk secara menyeluruh sebelum melakukan transaksi. Produk saham tertokenisasi memiliki struktur dan karakteristik yang berbeda dari kepemilikan saham langsung.

Perbedaan Saham Konvensional dan Saham Tertokenisasi

Salah satu perbedaan utama terletak pada bentuk kepemilikannya. Ketika seseorang membeli saham secara langsung melalui sekuritas yang terhubung dengan bursa, investor memiliki kepemilikan saham sesuai mekanisme pasar modal yang berlaku.

Pada saham tertokenisasi, token umumnya merepresentasikan nilai atau eksposur terhadap aset acuan. Pemegang token belum tentu tercatat sebagai pemegang saham langsung pada perusahaan yang menjadi referensinya.

Konsekuensinya, hak tertentu yang melekat pada pemegang saham konvensional dapat berbeda. Hak suara dalam RUPS, misalnya, tidak selalu tersedia bagi pemegang token saham.

Perbedaan lainnya berkaitan dengan likuiditas. Saat bursa acuan sedang tutup, harga token dapat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas pada jaringan atau platform tempat token tersebut diperdagangkan.

Sentimen pasar kripto juga berpotensi memengaruhi pergerakan harga di luar jam bursa. Akibatnya, harga token ketika pasar saham AS tutup dapat bergerak berbeda dibandingkan harga saham acuan ketika bursa kembali dibuka.

Investor juga perlu memperhatikan risiko penerbit dan kustodian. Nilai serta mekanisme token bergantung pada pihak yang menerbitkan dan mengelola instrumen tersebut.

Selain itu, regulasi mengenai aset tokenisasi masih berkembang di berbagai negara. Investor Indonesia perlu memastikan bahwa platform dan produk yang digunakan memiliki status serta ketentuan yang sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Jam Bursa AS dalam Waktu Indonesia

Untuk perdagangan saham konvensional, jadwal tetap menjadi acuan utama. Saat DST aktif, sesi reguler NYSE dan Nasdaq berlangsung sekitar pukul 20.30 sampai 03.00 WIB.

Ketika DST tidak aktif, jadwal bergeser menjadi sekitar pukul 21.30 sampai 04.00 WIB. Perubahan ini biasanya berlangsung secara musiman mengikuti sistem waktu Amerika Serikat.

Pre-market berlangsung sebelum jam reguler. Pada periode tersebut, investor dapat melakukan transaksi dengan kondisi pasar yang biasanya memiliki likuiditas lebih rendah dibandingkan sesi utama.

After-hours berlangsung setelah sesi reguler berakhir. Sama seperti pre-market, aktivitas perdagangan pada sesi tersebut dapat memiliki karakteristik berbeda, termasuk volume transaksi dan spread harga.

Di luar seluruh sesi tersebut, bursa resmi Amerika Serikat tidak melakukan perdagangan reguler. Akhir pekan dan hari libur bursa juga membuat pasar saham konvensional berhenti beroperasi.

Risiko Trading Saham US 24 Jam

Kemampuan melakukan transaksi sepanjang waktu dapat memberikan fleksibilitas, tetapi bukan berarti risikonya menjadi lebih kecil. Investor tetap perlu memperhatikan volatilitas dan kondisi pasar ketika melakukan transaksi.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah perbedaan harga antara token dan saham acuan. Ketika bursa AS tutup, harga token dapat bergerak berdasarkan sentimen serta likuiditas yang tersedia pada platform.

Ketika NYSE atau Nasdaq kembali dibuka, harga saham acuan dapat mengalami perubahan signifikan. Perbedaan tersebut berpotensi membuat harga token dan saham asli tidak bergerak secara identik.

Risiko lainnya adalah likuiditas. Jika jumlah pembeli atau penjual terbatas, spread dapat menjadi lebih lebar sehingga transaksi tidak selalu terjadi pada harga yang diharapkan.

Investor juga perlu memahami bahwa saham tertokenisasi bukan sekadar versi digital dari saham konvensional. Struktur hukum, hak kepemilikan, mekanisme transaksi, serta risiko produknya dapat berbeda.

Jadi, Apakah Saham US 24 Jam?

Kesimpulannya, saham konvensional yang tercatat di NYSE dan Nasdaq tidak buka selama 24 jam. Bursa tersebut tetap beroperasi sesuai jadwal resmi pada hari kerja dan tutup pada akhir pekan serta hari libur.

Istilah saham US 24 jam lebih tepat dikaitkan dengan instrumen atau layanan tertentu yang memungkinkan eksposur terhadap saham AS di luar jam perdagangan bursa. Salah satu bentuknya adalah saham tertokenisasi yang menggunakan teknologi blockchain.

Bagi investor Indonesia, pilihan tersebut memberikan fleksibilitas untuk melakukan transaksi di luar jam pasar saham AS. Namun, fleksibilitas tersebut juga disertai risiko tambahan yang perlu dipahami sebelum berinvestasi.

Sebelum membeli instrumen saham tertokenisasi, investor sebaiknya memeriksa mekanisme produk, status regulasi platform, hak yang diperoleh, biaya transaksi, likuiditas, serta risiko penerbit.

Dengan memahami perbedaan antara saham konvensional dan saham tertokenisasi, investor dapat menghindari kesalahpahaman mengenai istilah saham US 24 jam. Jam perdagangan NYSE dan Nasdaq tetap terbatas, sementara akses sepanjang waktu bergantung pada jenis instrumen dan platform yang digunakan.

(seo)

No more pages