Logo Bloomberg Technoz

Sementara, inflasi Indonesia tercatat dalam posisi relatif nyaman di 2,88%, masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 3% ± 1%. Sejalan dengan Indonesia, pergerakan inflasi di India juga berada di kisaran 4,45% dari target bank sentralnya 4% ± 2%. 

Begitu juga dengan Thailand yang mencatat inflasi 1,95% masih berada di rentang target bank sentral 1-3%, dan Vietnam mencatat inflasi 4,45%, nyaris mendekati batas target 4,5%.

Kedua negara ini menghadapi tekanan harga yang masih relatif terkendali meski memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Sementara, inflasi Malaysia tercatat landai di 1,8% dari posisi sebelumnya di 1,9%. Sebaliknya, inflasi di Korea Selatan melampaui target bank sentral dan berada di 2,8%, sedangkan targetnya di 2%. 

Sikap Bank Sentral

Jika dipersempit pada kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam, maka laju inflasi relatif terkendali, kecuali Singapura yang mengalami percepatan menjadi 2,2%. Meski begitu, inflasi Singapura berada di bawah ramalan Bloomberg Economics (2,7%) dan konsensus yang dihimpun Bloomberg (2,4%). 

Sementara Filipina yang mencatat inflasi tinggi 6,2%, sepertinya tak memberikan banyak pilihan pada bank sentral. Terlepas dari inflasi Filipina, dan inflasi di Singapura yang tercatat naik, secara garis besar sebagian besar ekonomi utama di kawasan ASEAN tidak sedang menghadapi lonjakan inflasi yang ekstrem. 

Tamu undangan meninggalkan lokasi acara pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kondisi ini pula yang membuat bank sentral di kawasan ini relatif punya ruang yang lebih leluasa terkait kebijakan suku bunga. 

Bank Indonesia (BI) misalnya, memilih mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% dengan inflasi yang masih berada dalam target dan suku bunga riil yang positif. Keputusan suku bunga ini sejalan dengan proyeksi ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg

Dengan begitu, BI memiliki ruang untuk menyeimbangkan dua kepentingan: menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan. 

Langkah yang sama juga ditempuh oleh bank sentral Thailand. Bank of Thailand diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 1%. Sebaliknya, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) bank sentral Filipina diproyeksikan mengerek suku bunga acuan menjadi 5% dari posisi 4,75% lantaran inflasi yang berada di atas target bank sentral. 

Namun, jika ditarik lebih jauh hingga Asia Timur seperti Korea Selatan, maka keputusan bank sentral bisa jadi berbeda. Bank of Korea (BOK) diperkirakan akan kembali mengerek suku bungan acuan sebesar 25 bps menjadi 3% pada pertemuan Kamis (27/8/2026) mendatang. 

Perbedaan respons di antara bank sentral di Asia juga menunjukkan bahwa kenaikan harga energi global tak secara otomatis menghasilkan respons moneter yang sama. Respons bank sentral bukan hanya mengacu seberapa tinggi angka inflasi, tapi juga sumber tekanan, kekuatan permintaan domestik, kondisi nilai tukar, dan berapa besar kenaikan biaya energi diteruskan kepada konsumen. 

Sementara itu, meski inflasi Singapura tercatat lebih landari dari proyeksi, namun Monetary Authority of Singapore tetap memperingkatkan bahwa inflasi berpotensi meningkat akibat tekanan energi dan dampak konflik Timur Tengah. 

Proyeksi Harga Minyak

Inflasi di Asia umumnya didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang kemudian diteruskan pada harga konsumen. Meski begitu, ternyata dampaknya tidak linear terhadap inflasi kawasan.

Negara yang jadi importir energi akan lebih rentan terhadap kenaikan harga minyak, tapi besar dampaknya juga tergantung pada subsidi energi, struktur konsumsi, kebijakan fiskal, kondisi nilai tukar, dan kemampuan produsen dalam meneriskan kenaikan biaya kepada konsumen. 

Tambang minyak bumi. dok: Bloomberg

Meski Indonesia mencatat inflasi yang relatif aman pada Juli, tetapi ruang ini tetap punya batas. Memang harga minyak mentah relatif jinak dan kembali di rentang US$92/barel. Namun angka tersebut masih berada di atas asumsi makroekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang berada di US$70/barel. 

Jika harga rerata minyak mentah tetap terhitung tinggi, maka pemerintah memang masih dapat menekan melalui skema subsidi. Akan tetapi, dampaknya terhadap fiskal tak bisa diabaikan. Sehingga bagi Indonesia, capaian inflasi yang masih berada dalam target ini masih berisiko datang dari transmisi guncangan eksternal melalui harga energi serta volatilitas nilai tukar. 

(dsp/aji)

No more pages