Logo Bloomberg Technoz

Alhasil, IHSG adalah Bursa Saham dengan penguatan terbaik ke–tiga di Asia.

Penyebab IHSG Menguat

Sejumlah saham menjadi pendorong penguatan IHSG sepanjang perdagangan hari ini. Saham-saham barang baku, saham konsumen non primer, dan saham perindustrian mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat mencapai 3,45%, 2,16% dan 2,15%. Sementara itu, saham–saham konsumen primer, dan saham keuangan juga berhasil menguat dengan kenaikan 1,98%, dan 1,49%.

Lebih–lebih penguatan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps yang memberikan bobot besar terhadap Indeks Komposit.

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (20/8/2026).

  1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 13,97 poin
  2. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 8,97 poin
  3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 8,87 poin
  4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyumbang 8,8 poin
  5. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyumbang 8,6 poin
  6. PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) menyumbang 5,29 poin
  7. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyumbang 3,65 poin
  8. PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyumbang 3,4 poin
  9. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbang 2,95 poin
  10. PT IndoKripto Koin Semesta Tbk (COIN) menyumbang 2,56 poin

Adapun saham-saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong melesatnya IHSG, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melesat dengan kenaikan 7,83%, dan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga melesat di zona hijau menguat 5,77%.

Disusul oleh penguatan saham LQ45 lain, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang menguat 5,77%, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melesat 4,76%, dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang mencetak penguatan 3,63%.

Penguatan Nilai Tukar Rupiah

Dari dalam negeri, apresiasi penguatan nilai tukar rupiah menjadi sentimen amat positif bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Pada tutup perdagangan di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp17.746. Rupiah menguat 0,49% point–to–point.

Penutupan Rupiah pada Kamis (20/8/2026). (Bloomberg)

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga menempati level terkuatnya mencapai Rp17.746/US$ pada penutupan perdagangan, hingga berhasil mencatatkan level terkuat sejak Juni lalu.

Penguatan rupiah hari ini menjadi salah satu yang terbesar di Asia, di posisi ke–dua, bersanding dengan Baht Thailand yang solid menguat 0,62%, hingga menyusul Ringgit Malaysia menguat 0,33%, dan Peso Filipina dengan penguatan 0,27%.

Rupiah dan valuta Asia nyaman di zona hijau terdorong sentimen dolar AS sedang melemah tajam. Pada perdagangan siang hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah ke posisi terendah sejak Mei lalu, atau lebih dari 3 bulan.

Rupiah dan mata uang Asia mampu menguat di tengah kelesuan dolar AS. Pada pukul 17:15 WIB, Dollar Index melemah 0,26% di posisi 98,574.

Dolar AS lesu di tengah sentimen kredibilitas yang dipicu oleh pengumuman buyback di pasar, di mana Departemen Keuangan AS pada Rabu mengatakan akan “setidaknya menggandakan” pembelian obligasi tenor 10 hingga 30 tahun yang telah beredar, setelah biaya pinjaman melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun. 

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, langkah tersebut membuat Bessent menjadi Menteri Keuangan AS yang paling intervensionis dalam beberapa dekade.

Langkah ini menandai perubahan dari pendekatan Departemen Keuangan AS yang selama ini “teratur dan dapat diprediksi” dalam pengelolaan utang, sesuatu yang sebelumnya juga didukung oleh Bessent sendiri dalam pidatonya pada November.

Sebagian pelaku pasar melihat langkah tersebut sebagai titik balik, dengan Washington mengambil peran yang lebih aktif dalam menjaga agar supaya biaya pinjamannya tetap rendah. Setelah sejumlah upaya lain baru-baru ini untuk menekan imbal hasil obligasi jangka panjang, langkah tersebut kembali memunculkan kecemasan kebijakan AS dapat mengikis kepercayaan terhadap dolar dan mendorong investor beralih ke aset alternatif.

“Dolar jelas merupakan pihak yang paling dirugikan,” kata Gerald Gan, Chief Investment Officer di perusahaan multi-family office Reed Capital di Singapura. 

Ia menilai Bessent sengaja mendorong penurunan suku bunga riil jangka panjang dan memberikan sinyal bahwa pemerintah AS toleran terhadap dolar yang lebih lemah demi menjaga perekonomian tetap bertahan.

“Saya akan semakin mendiversifikasi aset dan mengurangi eksposur terhadap dolar,” tambahnya.

Efeknya, saat rupiah menguat, beban utang luar negeri masing-masing emiten Perusahaan akan terpangkas. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah.

Pada nantinya, berpotensi membuat bertambahnya nilai laba bersih Perusahaan. Ketika laba emiten mencatat pertumbuhan, investor bisa berharap menikmati datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.

(fad)

No more pages