Logo Bloomberg Technoz

Sejak rapat tersebut, sejumlah data justru menunjukkan perlambatan ekonomi AS. Penjualan ritel Juli turun, inflasi inti cukup jinak, sementara penciptaan lapangan kerja ternyata lebih lemah dari perkiraan setelah revisi data.

Kondisi ini membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga September turun menjadi sekitar 36%, dari lebih dari 70% pada akhir Juli. Dengan demikian, meski risiko pengetatan masih terbuka, pasar kini akan mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed. 

Dari domestik, belum banyak katalis yang menopang rupiah. Bank Indonesia (BI) baru saja menahan suku bunga BI Rate di 5,75%, sejalan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR). 

Namun, keputusan BI mempertahankan BI Rate cukup diapresiasi pelaku pasar dengan aksi beli yang terjadi pada aset obligasi kemarin. Melansir data Bloomberg, penurunan yield paling dalam terjadi di tenor menengah terutama 5 hingga 10 tahun. 

Yield 5 tahun turun 7,4 basis poin (bps) menjadi 6,93%, tenor 8 tahun turun 8,4 bps menjadi 7,09%. Sedangkan tenor 9 tahun merosot paling tajam sebesar 11,4 bps menjadi 7,08%. Begitu juga tenor acuan 10 tahun turun 4,1 bps menjadi 7,11%. 

Jika pergerakan di pasar obligasi terjaga, rupiah diperkirakan tetap stabil hari ini dan bergerak di rentang Rp17.800-Rp17.900/US$. 

(riset/aji)

No more pages