Logo Bloomberg Technoz

Alokasi penuh ini memberikan sedikit kelegaan bagi perusahaan kilang Eropa di saat Selat Hormuz masih mengalami gangguan parah yang membatasi aliran minyak dari Teluk Persia.

Kilang-kilang di kawasan tersebut tidak mungkin menanggung gangguan pasokan besar lainnya setelah pengiriman CPC Blend—salah satu sumber minyak mentah utama mereka—dikurangi secara drastis bulan lalu akibat serangan pesawat nirawak di Laut Hitam.

Saudi Aramco menolak berkomentar.

Aramco memberi tahu pelanggan Eropa mengenai alokasi mereka sekitar satu pekan lebih lambat dari biasanya di tengah ketegangan di Laut Merah yang mengganggu logistik normal kerajaan tersebut.

Sebelum Aramco menetapkan alokasi tersebut, sejumlah pedagang menyatakan kekhawatiran bahwa Asia mungkin akan memborong lebih banyak minyak mentah dari Sidi Kerir, yang berarti pasokan bagi Eropa akan berkurang.

Aramco sebelumnya telah memberi tahu pembeli di Asia mengenai alokasi mereka pada awal pekan ini, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

Namun, beberapa pembeli menolak permintaan produsen untuk mengambil kargo di Yanbu karena ancaman dari militan Houthi Yaman menyulitkan pencarian kapal yang bersedia berlayar ke sana.

Gangguan ini memaksa Aramco mencari cara yang lebih kreatif untuk memasarkan dan mendistribusikan minyak mentahnya, mengingat rute ekspor utamanya—melalui Selat Hormuz dari Teluk Persia dan melalui Yanbu di Laut Merah—menjadi semakin berisiko.

Perusahaan kini menawarkan kargo dengan skema transfer antarkapal dari lokasi-lokasi seperti Sohar di Teluk Oman. Ini merupakan tanda bahwa kerajaan tersebut mungkin mengikuti langkah Uni Emirat Arab dalam menyalurkan lebih banyak minyak mentah Teluk Persia melewati Selat Hormuz.

(bbn)

No more pages