Rumah sakit lapangan tersebut dilengkapi tenda rawat inap, ruang instalasi gawat darurat (IGD), serta ruang operasi. Pada tahap awal, fasilitas tersebut memiliki sekitar 60 tempat tidur dan akan ditambah hingga sedikitnya 100 tempat tidur.
“Kita akan tambah lagi sehingga minimal menjadi 100 rawat inap. Kita sedang kirim tenda tambahan dari Bali,” kata Budi.
Ruang operasi menjadi salah satu fasilitas utama yang disiapkan agar pasien trauma, termasuk korban patah tulang akibat tertimpa bangunan, tetap dapat menjalani tindakan pembedahan meski bangunan utama RSUD Ruteng belum aman digunakan.
“Ini ruang operasi. Nanti disterilisasi. Ruang ini steril dan bisa diisolasi. Fasilitas seperti ini pernah digunakan saat bencana di Sumedang dan juga bencana di Aceh,” ujarnya.
Korban Patah Tulang Ditangani Dokter Spesialis
Dalam kunjungannya ke RSUD Ruteng, Budi juga meninjau pasien korban gempa, salah satunya Yosef, anak berusia 12 tahun yang mengalami patah tulang paha setelah rumah tetangganya roboh akibat gempa.
Budi mengatakan pasien tersebut membutuhkan tindakan operasi agar tidak mengalami gangguan fungsi pada kakinya.
“Kalau tidak dioperasi, nanti sembuhnya bisa cacat. Dia tidak bisa main bola lagi. Padahal dia senang main bola dan ingin menjadi pemain tim nasional,” ujar Budi.
Kemenkes memastikan Yosef mendapatkan penanganan dari tim dokter spesialis ortopedi yang dimobilisasi untuk memperkuat pelayanan di RSUD Ruteng. Tim tersebut berasal dari sejumlah rumah sakit dan institusi pendidikan kedokteran, termasuk RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
“Kita berterima kasih kepada teman-teman dari rumah sakit yang sudah datang membantu. Ada dari Sardjito, Ben Mboi, Universitas Hasanuddin, dan Rumah Sakit Dr. Soetomo yang khusus membantu di RSUD Ruteng. Para dokter ortopedi ini sudah mau membantu menyembuhkan pasien-pasien yang membutuhkan penanganan,” kata Budi.
RS Lapangan Didirikan
Selain Ruteng, Kemenkes juga mendirikan rumah sakit lapangan di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo. Kedua fasilitas tersebut merupakan rumah sakit rujukan yang terdampak gempa, sehingga pelayanan tidak dapat berjalan secara optimal.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan (Puskris) Kemenkes, Agus Jamaludin mengatakan pendirian dua rumah sakit lapangan merupakan bagian dari respons cepat setelah Health Emergency Operation Center (HEOC) diaktifkan.
“Saat ini kami tengah mendirikan dua RS Lapangan di RSUD Ruteng Kabupaten Manggarai dan RSUD Aeramo Kabupaten Nagekeo. Langkah ini krusial untuk memastikan masyarakat terdampak bencana tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan aman, mengingat kedua fasilitas tersebut mengalami kerusakan,” ujar Agus.
Di Nagekeo, Tim Emergency Medical Team (EMT) Komposit telah berkoordinasi dengan Direktur RSUD Aeramo mengenai operasional rumah sakit lapangan. Tim juga bekerja sama dengan petugas Instalasi Pemeliharaan Rumah Sakit (IPRS) untuk memantau kondisi kerusakan ruang perawatan dan memastikan keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan.
Berdasarkan hasil koordinasi, RSUD Aeramo membutuhkan tambahan tenda untuk mendukung operasional rumah sakit lapangan.
Untuk memperkuat pelayanan, Kemenkes mengerahkan dua dokter spesialis ortopedi, satu dokter spesialis bedah umum, dua dokter spesialis anestesi, satu dokter umum, serta perawat dengan kompetensi IGD, anestesi, dan kamar operasi.
Tenaga medis tersebut berasal dari Tim Utama yang melibatkan unsur kesehatan dari Kupang, RS Wahidin Makassar, RS Leimena Ambon, dan RS Ben Mboi Kupang, serta didukung Tim Back Up dari RS Kariadi.
Tim medis dari RSUD Ende juga disiagakan untuk mendukung operasional RSUD Aeramo apabila terjadi lonjakan kebutuhan akibat dampak lanjutan gempa.
Logistik Kesehatan
Dalam respons medis tersebut, Tim EMT turut membawa sejumlah logistik prioritas, di antaranya vaksin dari Bio Farma, satu unit Emergency Kit, 2.000 masker, 1.000 kantong infus HS NS, dan 400 pasang sarung tangan medis.
Budi mengatakan respons kesehatan pascagempa tidak hanya dilakukan di rumah sakit, tetapi juga harus menjangkau masyarakat hingga tingkat desa. Kemenkes akan memperkuat mobilisasi tenaga kesehatan dan relawan untuk melakukan penyisiran kesehatan di wilayah terdampak.
“Kita perlu sekali mengirim tim relawan ke seluruh puskesmas yang ada di Flores Utara untuk menyapu bersih semua desa, mengidentifikasi pasien-pasien mana yang harus segera kita rawat dan dirujuk ke rumah sakit,” kata Budi.
Tim kesehatan akan mendatangi puskesmas dan desa-desa terdampak untuk mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan pelayanan segera, termasuk pasien yang perlu dirawat maupun dirujuk.
Kemenkes melalui Pusat Krisis Kesehatan memastikan pemantauan terhadap situasi akan terus dilakukan bersama pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, perguruan tinggi, serta jejaring tenaga kesehatan.
Pembangunan rumah sakit lapangan, mobilisasi dokter spesialis, penyediaan logistik kesehatan, dan penyisiran langsung ke wilayah terdampak dilakukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan sekaligus mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan pascagempa.
(dec/spt)































