Bursa Asia Bersiap Melemah Imbas Aksi Jual Saham Teknologi AS
News
19 August 2026 07:10

Toby Alder - Bloomberg News
Bloomberg, Bursa saham di Asia diperkirakan akan melemah pada perdagangan Rabu menyusul aksi jual saham-saham teknologi di Amerika Serikat (AS). Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi, kenaikan harga minyak, serta memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah mendorong para investor untuk memangkas aset berisiko.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham untuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia semuanya menunjukkan indikasi penurunan saat pembukaan pasar, sementara kontrak saham AS cenderung bergerak mendatar. Di New York, indeks Nasdaq 100 merosot 1,7% dan S&P 500 tergerus 0,7%, memperpanjang tren penurunan kedua indeks tersebut menjadi tiga sesi berturut-turut. Indeks acuan saham semikonduktor yang dipantau ketat bahkan melonjak turun hingga 5%.
Di saat pergerakan obligasi AS (Treasury) cenderung terbatas, imbal hasil bertenor 10 tahun tetap bertahan di dekat level tertinggi sejak awal 2025. Yield obligasi AS bertenor 30 tahun sempat menyentuh angka 5,34% pada Selasa (18/8) sebelum melandai tipis. Sementara itu, harga minyak mentah AS naik 0,6% hingga menembus di atas US$85 per barel pada Rabu pagi, seiring kebuntuan antara AS dan Iran terkait kendali Selat Hormuz. Indeks kekuatan dolar AS juga tercatat menguat.
Para investor menarik diri dari saham-saham pertumbuhan seiring imbal hasil obligasi jangka panjang yang bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran atas inflasi yang persisten, tingginya pengeluaran pemerintah, serta lonjakan penerbitan utang. Gejolak geopolitik kian menambah tekanan dengan meningkatkan risiko kejutan pasokan energi yang dapat menahan inflasi dan biaya pinjaman tetap tinggi lebih lama.




























