"Kombinasi antara tingginya biaya energi dan membengkaknya biaya pinjaman jangka panjang membuat pasar kian tidak nyaman," ujar Fawad Razaqzada dari Forex.com. "Para investor saham akhirnya mulai merespons dengan mengambil posisi yang lebih defensif."
Meskipun imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun berada di dekat level tertinggi sejak 2007, yield acuan bertenor 10 tahun tetap menjadi "jangkar utama bagi pasar saham. Walaupun sempat merangkak naik, posisinya belum mencapai level yang mengkhawatirkan," tulis analis Scotiabank dalam catatannya pada Selasa. Imbal hasil 10 tahun menyentuh 4,75% pada hari Selasa.
Para investor juga mengkalkulasi ulang prospek kebijakan moneter AS, dengan lebih dari sepertiga pelaku pasar kini memproyeksikan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), meningkat dibandingkan pekan lalu. Risalah rapat The Fed dijadwalkan rilis pada Rabu (19/8) dan diperkirakan memberi petunjuk mengenai arah pemikiran para pembuat kebijakan, di tengah intensitas komunikasi Gubernur The Fed Kevin Warsh yang cenderung berkurang.
"Pasar merasa cemas tentang bagaimana respons kebijakan The Fed selanjutnya," ujar Kay Herr, Kepala Investasi AS untuk tim Pendapatan Tetap, Valuta Asing, dan Komoditas Global di JPMorgan, saat berbicara di Bloomberg Television. "Pasar sangat tidak menyukai ketiadaan panduan arah kebijakan," tambah Herr merujuk pada lonjakan imbal hasil obligasi.
Selain risalah rapat The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada serangkaian laporan kinerja keuangan sektor konsumer setelah data penjualan ritel pekan lalu menunjukkan pelemahan. Laporan keuangan Home Depot Inc berhasil melampaui ekspektasi pasar, memberi sinyal ketahanan sektor ritel di tengah pasar perumahan yang tertekan oleh tingginya harga rumah dan suku bunga. Meski demikian, sahamnya tetap terkoreksi tipis 0,1%.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah kian intensif setelah Uni Emirat Arab menyatakan dua rudal balistik yang ditembakkan dari Iran ke arah wilayahnya jatuh ke laut. Peristiwa ini menjadi serangan terkonfirmasi pertama dari Republik Islam tersebut ke negara Teluk itu sejak Mei, di saat konflik yang lebih luas terus berlarut-larut.
Ketidakpastian yang kembali mencuat ini menghentikan reli aset-aset di pasar berkembang (emerging markets). Indeks saham negara berkembang MSCI turun 0,9% dan hampir seluruh mata uang melemah terhadap dolar AS.
"Ketidakpastian di Timur Tengah membuat pasar tetap berada dalam posisi waspada," kata Dan Pan, ekonom kawasan Amerika di Standard Chartered. "Risiko inflasi telah menumpuk di atas kekhawatiran fiskal, sehingga mendongkrak imbal hasil jangka panjang AS. Sentimen risiko secara umum tetap berada pada posisi hati-hati."
(bbn)





























