Pengaturan tersebut dilakukan oleh sistem manajemen energi kendaraan. Dengan begitu, pengemudi tidak perlu menentukan secara manual kapan mesin bensin harus aktif dan kapan kendaraan menggunakan tenaga listrik.
Bobby mengatakan perpindahan sumber tenaga tersebut dirancang agar berlangsung tanpa mengganggu kenyamanan berkendara. Sistem secara otomatis menyesuaikan kebutuhan tenaga berdasarkan kondisi kendaraan.
"Pengemudi tidak akan merasakan jeda atau hentakan saat sistem mengaktifkan mesin bensin. Semua berjalan secara mulus sehingga pengemudi tetap menikmati akselerasi yang halus, responsif, dan senyap," tambah Bobby.
Motor listrik menjadi penggerak utama
Teknologi Dual Mode generasi kelima pada BYD M6 DM memang dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari kendaraan hybrid konvensional yang secara aktif bergantian menggunakan mesin dan motor listrik sebagai penggerak.
Pada M6 DM, motor listrik mendapatkan peran utama untuk menggerakkan kendaraan. Mesin bensin kemudian bekerja sebagai pendukung ketika sistem mendeteksi adanya kebutuhan tambahan.
"Teknologi Dual Mode generasi kelima yang kami benamkan pada BYD M6 DM menempatkan motor listrik sebagai penggerak utama. Kami merancang sistem ini agar mesin bensin tidak perlu bekerja terus-menerus, melainkan menyokong sistem penggerak secara otomatis hanya saat kondisi benar-benar memerlukannya," terang Bobby.
Sistem penggerak pada BYD M6 DM terdiri dari tiga komponen utama. Ketiganya adalah mesin hybrid 1.5 liter naturally aspirated, Electric Hybrid System (EHS), dan Blade Battery.
Mesin bensin 1.5 liter memiliki tugas sebagai sumber tenaga ketika sistem membutuhkan dukungan dari mesin pembakaran internal. BYD juga mengembangkan mesin tersebut dengan fokus pada efisiensi termal.
Menurut Bobby, mesin tersebut memiliki tingkat efisiensi termal yang mencapai 46,06 persen. Angka itu diklaim menjadi salah satu yang tertinggi di dunia untuk mesin produksi massal.
"Mesin hybrid 1.5L pada M6 DM ini mampu mencatatkan efisiensi termal hingga 46,06 persen. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia untuk kategori mesin produksi massal. Kami mencapai tingkat efisiensi luar biasa ini berkat penggunaan rasio kompresi tinggi 16:1 dan optimasi pembakaran yang tetap cocok dengan bensin minimal RON 92," tegas Bobby.
Efisiensi tersebut dicapai melalui penggunaan rasio kompresi tinggi 16:1 serta optimalisasi proses pembakaran. Mesin juga dirancang agar tetap dapat menggunakan bensin dengan spesifikasi minimal RON 92.
EHS dibuat lebih ringkas
Selain mesin bensin, Electric Hybrid System atau EHS menjadi komponen penting dalam sistem penggerak BYD M6 DM. EHS menggabungkan sejumlah komponen elektrifikasi dalam satu unit.
Motor listrik, kontrol elektronik, dan sistem pendingin diintegrasikan ke dalam sistem tersebut. Integrasi ini bertujuan membuat konstruksi sistem penggerak menjadi lebih ringkas sekaligus mengurangi bobot.
"Kami mengintegrasikan motor listrik, kontrol elektronik, hingga sistem pendingin ke dalam satu unit EHS yang jauh lebih ringkas. Langkah integrasi ini berhasil memangkas bobot dan volume sistem hingga sekitar 30 persen," ungkap Bobby.
Pengurangan bobot dan volume sistem menjadi salah satu bagian dari upaya BYD meningkatkan efisiensi kendaraan. Meskipun demikian, motor listrik tetap menjadi sumber penggerak utama ketika mobil digunakan dalam aktivitas berkendara.
Mesin bensin kemudian mengambil peran sesuai kebutuhan yang dihitung oleh sistem manajemen energi. Pengemudi cukup mengoperasikan kendaraan seperti biasa tanpa harus mengatur perpindahan sumber tenaga secara manual.
Klaim konsumsi bahan bakar mencapai 65 km/liter
Kombinasi antara motor listrik, mesin bensin yang efisien, EHS, dan Blade Battery turut berdampak pada konsumsi bahan bakar. BYD mengklaim sistem tersebut mampu menghasilkan efisiensi bahan bakar yang tinggi.
Dalam kondisi baterai dan tangki bensin terisi penuh, BYD M6 DM diklaim mampu mencatatkan efisiensi hingga 65 km/liter. Angka tersebut diperoleh berdasarkan pengujian dan simulasi internal yang dilakukan BYD.
"Hasil dari seluruh penyempurnaan sistem ini sangat terasa pada konsumsi bahan bakar. Berdasarkan pengujian dan simulasi internal kami, BYD M6 DM mampu menempuh jarak sejauh 150 kilometer dengan mencatatkan efisiensi hingga 65 km/liter saat kondisi baterai dan tangki bensin terisi penuh," tutup Bobby.
Dengan konsep tersebut, BYD M6 DM menawarkan karakter berkendara yang lebih dekat dengan mobil listrik, tetapi tetap memiliki mesin bensin sebagai pendukung ketika diperlukan.
Kehadiran mesin pembakaran internal membuat kendaraan tidak sepenuhnya bergantung pada pengisian daya baterai. Pada saat yang sama, motor listrik tetap menjadi bagian utama dalam memberikan respons dan karakter berkendara yang menjadi ciri sistem elektrifikasi.
Pendekatan Dual Mode generasi kelima tersebut menjadi strategi BYD dalam menggabungkan keunggulan kendaraan listrik dengan fleksibilitas mesin bensin. Sistem manajemen energi menjadi bagian penting karena menentukan kapan masing-masing sumber tenaga digunakan.
Dengan demikian, BYD M6 DM tidak sekadar mengandalkan kombinasi mesin bensin dan motor listrik, tetapi juga mengatur keduanya berdasarkan kebutuhan kendaraan. Motor listrik bekerja sebagai pemeran utama, sedangkan mesin 1.5 liter mengambil peran sebagai pendukung ketika sistem membutuhkan tambahan energi maupun tenaga.
(seo)































