Berdasarkan data Bloomberg, pemegang saham BYAN per 18 Agustus 2026 adalah Low Tuck Kwong dengan menguasai 40,25% saham BYAN posisi 13.416.921.870 lembar saham. Sementara Elaine Low menggenggam 22% dengan 7.333.833.700 saham, menyusul PT Sumber Suryadaya Prima 10% dengan 3.333.380.000 saham.
Pasar Cermati Nilai Akuisisi Saham BYAN oleh Haji Isam
Turut menjadi perhatian pasar, Samuel Sekuritas menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melejit pada perdagangan sebelumnya amat didorong oleh kenaikan harga saham BYAN yang mencapai 20% menyusul sentimen terkait akuisisi oleh Haji Isam.
“Saat ini, pasar tengah menghitung dan mencermati dampak akuisisi tersebut, yang kemungkinan akan memicu volatilitas pada perdagangan hari ini,” papar riset Samuel Sekuritas.
Dari situ, menarik dicermati perihal nilai akuisisi yang digadang–gadang tengah dipersiapkan Haji Isam. Dilansir dari informasi di pasar, nilai akuisisi ditaksir lebih dari US$5,5 miliar (Rp98,2 triliun dengan asumsi kurs Rp17.857/US$).
Petunjuk selanjutnya ialah jumlah akuisisi yang disebut–sebut mencapai 62,2% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), diketahui kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low tepat mencapai 62,2% terhadap saham BYAN. Jumlah tersebut nyaris mirip dengan porsi yang disebut–sebut bakal diambil alih Haji Isam.
Jika dihitung kasar di atas kertas, porsi kepemilikan Low Tuck Kwong 40,25% saham dengan 13.416.921.870 lembar saham, dan Elaine Low dengan porsi 22% atau 7.333.833.700 lembar saham.
Dengan data itu, 13.416.921.870 lembar saham ditambah/dijumlahkan dengan 7.333.833.700 lembar saham, hasilnya ialah tepat 62,2% dari total saham BYAN. Hasilnya adalah 20.750.755.570 lembar saham, yang dirumorkan bakal diambil alih oleh Haji Isam.
Secara perhitungan kasar dengan asumsi harga pasar saham BYAN Rp17.275/saham, dikalikan dengan 20.750.755.570 lembar saham, maka nominal yang harus dirogoh Haji Isam mencapai Rp358,3 triliun guna melancarkan akuisisi. Namun belum ada konfirmasi resmi soal nilai transaksi, struktur pembelian, maupun kepastian akuisisi akan atau bakal terjadi. Manajemen Jhonlin Group maupun BYAN belum mengumumkan keterbukaan resminya melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI).
(fad/aji)




























