"Kalau untuk sentimen jangka pendek bisa, cuma kalau untuk jangka panjang, terutama kalau kita lihat dari fundamentalnya sendiri, kayaknya akan masih belum ya. Jadi kalau ada kenaikan dari jangka pendek sih mungkin akan sesaat aja," tutur dia.
Selain sentimen PFII, prospek saham properti dalam jangka pendek masih menghadapi tantangan dari suku bunga. Tingkat suku bunga yang masih tinggi dinilai belum banyak membantu pemulihan sektor properti.
“Sekarang sebenarnya sentimen sektor properti, kalau jangka pendek itu masih diwarnai sama interest rate-nya masih tinggi. Tadinya kan kita ekspektasinya di awal tahun akan ada penurunan, cuma yang terjadi adalah kebalikannya. Jadi jangka pendek sih masih akan berat buat properti,” ujar Rully.
Kinerja Saham
IDXPROPERT yang menjadi ukuran pergerakan saham properti dan real estate di bursa cenderung berbalik minus di tengah tren penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG).
IDXPROPERT minus 0,62% ke level 812,12 saat penutupan perdagangan sesi I, Selasa (18/8/2026). Sementara itu, IHSG cenderung menguat 1,26% ke level 6.482.
Dari lantai bursa, saham properti kongsi Aguan dan Grup Salim PT Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) relatif bergerak sideways. Saham PANI dan CBDK masing-masing menguat minor 0,41% dan 1,09% pada perdagangan sesi I hari ini.
Sementara itu, saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) ikut bergerak landai sampai penutupan perdagangan sesi I hari ini.
Sebaliknya, saham PT Sentul City Tbk (BKSL) justru balik arah meski baru menguat tipis sebesar 3 poin ke level Rp77/saham.
Pelaku pasar mengaitkan keberadaan PFII nantinya dengan cadangan lahan atau landbank yang dimiliki BKSL.
Terlebih, BKSL masih memiliki landbank seluas 14.543 hektare (ha), menjadi yang terbesar dibanding emiten properti lain.
Genting Group juga sudah bergabung di kawasan BKSL. Ini ditandai dengan akuisisi sekitar 150 ha perusahaan.
Jakarta & Bali
Pemerintah berencana untuk membangun PFII di Jakarta dan Bali. Operasi pusat finansial itu ditargetkan berjalan akhir 2026.
Sebagai gambaran, PFII merupakan wilayah yang khusus mengakomodasi kebutuhan dunia usaha dan industri jasa keuangan global. Salah satu tujuannya untuk meningkatkan investasi dan daya saing Indonesia sebagai pusat keuangan internasional.
Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani mengatakan Danantara nantinya hanya akan membangun infrastrukturnya, termasuk gedung dan sarana lainnya.
"Kita membutuhkan suatu perencanaan yang baik dan matang sehingga mendapatkan kepercayaan yang baik dari para investor," kata Rosan, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan usaha sektor keuangan yang akan ada di PFII mencakup: perbankan, asuransi, keuangan syariah, pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon. Kemudian, dana pensiun, pembiayaan, modal ventura, inovasi teknologi sektor keuangan, dan penjaminan.
Kemudian, perdagangan/bursa komoditas internasional (international commodity trading), bullion, pengelola dana perwalian (trust), pengelola instrumen keuangan (special purpose vehicle), perusahaan induk konglomerasi keuangan (financial holding company), pasar uang, pasar valuta asing, dan transaksi derivatif. Lembaga pengelola kekayaan keluarga (family office), dan kegiatan usaha sektor keuangan lainnya.
Sementara itu, terdapat kegiatan usaha penunjang sektor keuangan mencakup: akuntan publik, jasa penilai, notaris, konsultan hukum, konsultan keuangan, dan kegiatan usaha penunjang sektor keuangan lain.
Pemerintah memprioritaskan PFII untuk menarik perusahaan multinasional asing agar bisa berinvestasi di Indonesia. Perusahaan domestik khususnya jasa keuangan yang masuk dipastikan harus melalui persyaratan lebih ketat. Pemerintah menargetkan investasi yang masuk ke PFII dapat mencapai Rp500 triliun.
(cpa/naw)
































