BMI mencatat, ketika El Nino terjadi pada periode 2023—2024, yield produksi CPO Indonesia turun 4,2%, sehingga membuat penurunan produksi sebesar 4,4% secara tahunan.
“Ketika harga minyak mentah turun dari puncaknya pada kuartal II-2026, risiko terkait dengan cuaca meningkat dan pertumbuhan produksi minyak sawit tetap terbatas, para pembuat kebijakan mungkin akan makin kesulitan menyeimbangkan tujuan ketahanan energi dengan keberlanjutan fiskal dan daya saing ekspor,” tulis BMI dalam riset terbarunya, Selasa (18/8/2026).
“Pada akhirnya, kami meyakini keberhasilan ambisi biofuel Indonesia akan bergantung pada keberlanjutan basis bahan baku dan pendanaannya,” tegas BMI.
Persoalan Produksi
BMI menilai gabungan kondisi tersebut menunjukan kelemahan model pembiayaan biodiesel Indonesia.
Saat ini, pungutan ekspor (PE) CPO dimanfaatkan untuk mendanai insentif biodiesel dan mendukung pengembangan sektor hulu.
Akan tetapi, peningkatan konsumsi CPO domestik yang cepat makin menggerus surplus CPO yang dapat diekspor.
“Sehingga mekanisme pendanaan makin membatasi dirinya sendiri,” tegas BMI.
Dinamika tersebut terjadi ketika ruang kenakan tarif PE sangat terbatas tak menimbulkan risiko terhadap daya saing ekspor, terlebih tarif PE telah naik dari 10% menjadi 12,5% pada Maret 2026.
“Trade off ini makin diperumit oleh keterkaitannya dengan kendala struktural yang dihadapi produksi minyak sawit domestik,” ungkap BMI.
BMI mencatat Indonesia mengalami kendala struktural, berupa rendahnya tingkat peremajaan kebun kelapa sawit dan penanaman ulang. Sejak 2016 padhal program replanting telah mendapatkan sokongan dana yang dialokasikan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui hasil pungutan ekspor (PE) CPO.
BMI menilai besaran dana yang dialokasikan dari PE CPO untuk peremajaan kebun kelapa sawit masih belum memadai, utamanya untuk mendorong program tersebut di seluruh Indonesia.
“Sementara itu, peluang untuk memperluas areal perkebunan makin terbatas akibat tekanan urbanisasi, pertimbangan lingkungan, dan persaingan dengan penggunaan lahan alternatif,” tulis BMI.
Dalam riset berbeda, BMI sempat memproyeksikan rata-rata harga minyak mentah Brent pada level US$71/barel pada 2027.
Proyeksi tersebut turun 17,44% dibandingkan dengan proyeksi rara-rata harga Brent sebesar US$86/barel pada 2026.
Ramalan itu juga turun 21,98% dari realisasi harga Brent sepanjang tahun berjalan pada level US$91/barel pada 2026.
Peneliti BMI memandang harga Brent bakal condong ke arah penurunan alih-alih kenaikan pada tahun depan. Akan tetapi, mereka menggarisbawahi pasar minyak masih berada dalam ketidakpastian untuk tahun depan.
“Muncul ekspektasi yang menguat bahwa OPEC+ akan menghentikan peningkatan produksinya setelah September 2026. Kelompok tersebut kemungkinan terkejut melihat betapa tajamnya harga Brent turun setelah nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Mereka tentu ingin menghindari sentimen bearish [pelemahan harga] yang makin dalam,” tulis BMI dalam riset terbaru, Sabtu (1/8/2026).
Adapun, harga CPO global diperkirakan bergerak dalam tren penguatan dan tertahan di level stabil tinggi hingga akhir tahun ini, ditopang oleh ketatnya pasokan akibat penurunan ekspor yang dipicu kebijakan mandatori biodiesel B50 dari Indonesia.
Menurut analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo Wahyu Laksono harga acuan CPO di Bursa Malaysia Derivatif (MDEX) akan bergerak dalam rentang stabil di kisaran RM4.200—RM5.000/ton pada semester II-2026.
"Outlook harga CPO hingga akhir tahun ini diperkirakan berada dalam fase volatilitas tinggi, tetapi dengan tendensi konsolidasi yang kuat. Memasuki paruh kedua 2026, harga acuan berjangka di MDEX terpantau mulai stabil dan berkonsolidasi di kisaran RM4.200 hingga RM5.000 per metrik ton," ujar Wahyu saat dihubungi, Selasa (22/7/2026).
Angka ini menguat dibandingkan dengan harga rata-rata tahun sebelumnya yang bergerak volatil di rentang RM3.700—RM4.000 per metrik ton.
Di sisi lain, secara year to date (ytd), harga CPO menunjukkan pola pergerakan konsolidasi yang cenderung naik (bullish).
Pada awal tahun, harga CPO kembali melesat hingga menembus level RM4.600 per metrik ton.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan insentif pendanaan dari BPDP untuk program B50 dalam kondisi aman.
Kepastian ini disampaikannya di tengah tren kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang telah melampaui rata-rata US$90/barel.
Bahlil menegaskan lonjakan harga minyak dunia tersebut tidak membebani ketahanan dana pembiayaan yang dikelola oleh BPDP.
"Menyangkut dengan subsidi dari BPDP dengan harga minyak yang di atas rata-rata US$90/barel ICP, itu kita tidak ada persoalan di BPDPKS termasuk dengan B50," ujar Bahlil kepada awak media di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut Bahlil, implementasi program B50 secara otomatis akan meningkatkan kebutuhan pasokan CPO di dalam negeri.
Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan skema agar peningkatan konsumsi domestik tersebut tidak mengganggu pasokan pasar lokal maupun kinerja ekspor nasional.
"Termasuk di dalamnya adalah dengan kita menaikkan menjadi program B50 itu kan ada penambahan CPO, dan itu semua bisa teratasi dengan tetap menjaga kebutuhan domestik, selebihnya baru kita melakukan ekspor. Jadi keseimbangan ekspor pun dijaga," tambahnya.
Terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut insentif biodiesel yang berasal dari BPDP sepanjang 2026 mencapai Rp32 triliun.
Angka insentif ini lebih rendah 31,9% dibandingkan dengan insentif biodiesel sepanjang 2025 yang senilai Rp47 triliun.
"Berkurang. Tadinya Rp47 triliun-an [ke BPDP], menjadi Rp32 triliun," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (18/6/2026).
Kemudian, besar insentif senilai Rp32 triliun tersebut digunakan untuk insentif biodiesel B40 dan berlanjut untuk B50 yang dilaksanakan mulai 1 Juli 2026.
(azr/wdh)






























