Logo Bloomberg Technoz

BRI Danareksa Sekuritas menyebut, rumor akuisisi oleh Haji Isam menjadi katalis utama, dengan spekulasi pengambilalihan saham mencapai 62% saham BYAN oleh pihak terkait Jhonlin.

“Spekulasi aksi korporasi semakin kuat setelah JARR, perusahaan milik Haji Isam, menjadwalkan RUPSLB pada 21 September 2026 meski agenda resminya belum diumumkan,” papar BRI Danareksa Sekuritas dalam catatan terbarunya.

BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan momentum teknikal ikut menguat, dengan BYAN breakout dari pola reversal dan MA200, disertai lonjakan volume, mengindikasikan peningkatan buying interest.

Namun memang, perlu dicermati harga saham perseroan sudah melejit 40% dan tengah berada di area resisten Rp16.450–17.670/saham. Selama bertahan di atas Rp16.450/saham, momentum bullish masih terbuka menuju Rp17.670–18.565/saham.

Sebagai catatan, support terdekat saham BYAN saat ini berada di posisi Rp16.000/saham, kemudian support selanjutnya di Rp15.600/saham. Cermati titik stop loss di rentang sMA-200 nya Rp14.000/saham.

Teknikal Harga Saham BYAN dengan sMA (Bloomberg)

Adapun, yang lebih penting, cermati valuasi harga saham BYAN, yang saat ini tengah diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) 13x dan Price to Earnings Ratio (PER) mencapai 38,5x dengan market cap Rp575,8 triliun.

Jika disanding dengan PBV saham sejenis di industri yang sama di Bursa Efek Indonesia (BEI), maka saham BYAN tergolong overvalued (mahal). Berikut perbandingan valuasi BYAN dengan emiten di sektornya:

  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memiliki PBV 15,2x
  • PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) memiliki PBV 7,12x
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memiliki PBV 4,57x 
  • PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) memiliki PBV 2,79x
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memiliki PBV 2,32x
  • PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memiliki PBV 1,22x
  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memiliki PBV 1,15x
  • PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memiliki PBV 0,84x
  • PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) memiliki PBV 0,81x
  • PT Harum Energy Tbk (HRUM) memiliki PBV 0,68x
  • PT Indika Energy Tbk (INDY) memiliki PBV 0,66x

Kepemilikan saham di emiten BYAN juga tengah menjadi perhatian, Berdasarkan data Bloomberg, pemegang saham BYAN per 18 Agustus 2026 dikuasai oleh Low Tuck Kwong dengan porsi kepemilikan 40,25% saham atau sejumlah 13.416.921.870 lembar saham (13,41 miliar saham). Kemudian, Elaine Low mempunyai porsi kepemilikan 22% atau 7.333.833.700 lembar saham (7,33 miliar saham), dan PT Sumber Suryadaya Prima mempunyai 10% atau dengan 3.333.380.000 saham (3,33 miliar saham).

Dengan data itu, kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low tepat mencapai 62,2% kepemilikan saham BYAN. Jumlah tersebut nyaris mirip dengan porsi yang disebut–sebut bakal diambil alih Haji Isam. Dengan kata lain, emiten BYAN berpotensi berganti pengendali.

Namun, belum ada konfirmasi resmi soal nilai transaksi, struktur pembelian, maupun kepastian akuisisi akan atau bakal terjadi. Manajemen Jhonlin Group maupun BYAN belum mengumumkan keterbukaan resminya melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI). Informasi terbaru hanya menuturkan Pemberitahuan Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa JARR yang bakal berlangsung pada 21 September.

(fad/aji)

No more pages