Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, saham PT Sentul City Tbk (BKSL) justru balik arah meski baru menguat tipis sebesar 3 poin ke level Rp77/saham.

Pelaku pasar mengaitkan keberadaan PFII nantinya dengan cadangan lahan atau landbank yang dimiliki BKSL.

Terlebih, BKSL masih memiliki landbank seluas 14.543 hektare (ha), menjadi yang terbesar dibanding emiten properti lain.

Aeon Mall Sentul City, Bogor (Dok PT Sentul City Tbk)

Genting Group juga sudah bergabung di kawasan BKSL. Ini ditandai dengan akuisisi sekitar 150 ha perusahaan.

BKSL juga tidak asing dengan kawasan khusus. Perusahaan tengah membangun kawasan kesehatan di wilayahnya. Perseroan memastikan sedang mempersiapkan pembangunan biotown, kawasan terpadu yang digadang menjadi Kota Kesehatan pertama di Indonesia.

Presiden Direktur BKSL, Hiramsyah Sambudhy Thaib, menjelaskan bahwa biotown dirancang sebagai ekosistem kesehatan komprehensif yang berdiri di atas lima pilar utama atau 5M yaitu Medical Services, Medical Care, Medical Pharmaceutical, Medical Science, dan Medical Devices.

Menurut Hiramsyah, pengembangan biotown menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Fokus kawasan ini dinilai sejalan dengan empat sektor prioritas pemerintah, yaitu sektor properti dan industri, khususnya SmartGreen Industry, sektor kesehatan, infrastruktur digital, serta energi terbarukan.

"Sejalan dengan hal tersebut, biotown juga tengah diusulkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing industri kesehatan nasional," kata dia saat dikonfirmasi Bloomberg Technoz, Selasa (18/11/2025).

BKSL tengah mengusulkan kawasan tersebut menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Pengembangan ini juga sekaligus menjawab rumor yang sebelumnya sempat beredar pengembangan akan dilakukan bersama Danantara.

Efek Suku Bunga

“Tekanan suku bunga acuan jadi salah satu faktor di balik lesunya penjualan properti,” tulis tim riset Semesta Indovest Sekuritas dalam catatannya dikutip Selasa (18/8/2026).

Tim riset Semesta Indovest Sekuritas menerangkan BI Rate yang bertahan di level tinggi 5.75% sepanjang 2026 turut menekan daya beli konsumen properti, khususnya segmen yang mengandalkan pembiayaan KPR.

“Kondisi ini tercermin jelas pada segmen tanah dan bangunan BSDE yang anjlok 44,5% secara tahunan menjadi Rp1,7 triliun pada kuartal II 2026, mengindikasikan calon pembeli semakin selektif dan menunda keputusan pembelian di tengah biaya cicil yang lebih mahal,” tulis Semesta Indovest Sekuritas dalam catatannya.

Selain itu, landainya pergerakan saham emiten properti juga disebabkan karena kinerja paruh pertama 2026 yang cenderung di bawah ekspektasi pasar.

Analis dari CGS International Sekuritas Baruna Arkasatyo dan Edward menyoroti laba bersih SMRA dan CTRA yang merosot akibat tekanan beban bunga dan menurunnya penjualan.

“Pendapatan bersih pengembang properti semester I-2026 berada di bawah ekspektasi, kemungkinan disebabkan oleh penurunan serah terima, terutama pada segmen apartemen dan perkantoran,” tulis mereka.

Jakarta & Bali

Pemerintah berencana untuk membangun PFII di Jakarta dan Bali. Operasi pusat finansial itu ditargetkan berjalan akhir 2026.

Sebagai gambaran, PFII merupakan wilayah yang khusus mengakomodasi kebutuhan dunia usaha dan industri jasa keuangan global. Salah satu tujuannya untuk meningkatkan investasi dan daya saing Indonesia sebagai pusat keuangan internasional.

 Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani mengatakan Danantara nantinya hanya akan membangun infrastrukturnya, termasuk gedung dan sarana lainnya. 

"Kita membutuhkan suatu perencanaan yang baik dan matang sehingga mendapatkan kepercayaan yang baik dari para investor," kata Rosan, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan usaha sektor keuangan yang akan ada di PFII mencakup: perbankan, asuransi, keuangan syariah, pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon. Kemudian, dana pensiun, pembiayaan, modal ventura, inovasi teknologi sektor keuangan, dan penjaminan.

Kemudian, perdagangan/bursa komoditas internasional (international commodity trading), bullion, pengelola dana perwalian (trust), pengelola instrumen keuangan (special purpose vehicle), perusahaan induk konglomerasi keuangan (financial holding company), pasar uang, pasar valuta asing, dan transaksi derivatif. Lembaga pengelola kekayaan keluarga (family office), dan kegiatan usaha sektor keuangan lainnya.

Sementara itu, terdapat kegiatan usaha penunjang sektor keuangan mencakup: akuntan publik, jasa penilai, notaris, konsultan hukum, konsultan keuangan, dan kegiatan usaha penunjang sektor keuangan lain.

Pemerintah memprioritaskan PFII untuk menarik perusahaan multinasional asing agar bisa berinvestasi di Indonesia. Perusahaan domestik khususnya jasa keuangan yang masuk dipastikan harus melalui persyaratan lebih ketat. Pemerintah menargetkan investasi yang masuk ke PFII dapat mencapai Rp500 triliun.

(naw)

No more pages