Megawati menilai persatuan menjadi salah satu kekuatan penting bagi sebuah bangsa untuk mempertahankan kedaulatannya. Dia mencontohkan Iran yang menurutnya mampu bertahan karena rakyatnya bersatu.
"Kita mestinya seperti itu. Kalau akan mulai ada orang yang mengambil daerah kita, apakah kita akan biarkan saja? Kita ini harusnya bersatu padu, tetap, tetap, tetap menjadi yang namanya Indonesia bisa abadi," ujarnya.
Menurut Megawati, pada usia 81 tahun kemerdekaan, cita-cita Bung Karno seharusnya sudah mulai diwujudkan.
"Pada usia Republik yang ke-81 ini, semua yang diimpikan Bung Karno seharusnya sudah bisa dilaksanakan," katanya.
Soroti Pengelolaan Tambang
Megawati juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Dia meminta kekayaan alam, termasuk mineral dan hutan, dikembangkan untuk kepentingan masyarakat dan bukan hanya memberikan keuntungan bagi segelintir pihak.
"Saya percaya bahwa dengan mengembangkan apa yang ada di darat dan di laut tanpa mengeksploitasi tambang," kata Megawati.
Dia mengkritik praktik eksploitasi tambang yang dinilainya lebih banyak menguntungkan kepentingan pribadi dibandingkan pemerintah dan rakyat.
"Sekarang ini orang mulai garuk-garuk tambang terus. Tapi bukan untuk pemerintah, bukan untuk rakyat, tetapi untuk dirinya sendiri. Keuntungan bagi dirinya sendiri," ujarnya.
Megawati mengingatkan agar pengelolaan kekayaan alam tidak mengorbankan generasi mendatang.
"Bagaimana nanti anak cucu kita? Miskinlah," katanya.
Menurut dia, mineral dan hutan Indonesia sebenarnya dapat menjadi modal untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
"Inilah yang harus kita capai melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Abad ke-21, yang harus kita persiapkan sebagai penjabaran cita-cita besar kita," ujar Megawati.
Dia menegaskan cita-cita Indonesia merdeka bukan sekadar mimpi masa lalu, melainkan pekerjaan sejarah yang masih harus dilanjutkan.
"Sebab cita-cita Indonesia merdeka bukanlah mimpi belaka. Dan mimpi itu bukanlah mimpi masa lalu," katanya.
Megawati Singgung Polemik BPJS
Dalam pidatonya, Megawati juga meminta pemerintah memastikan keberlanjutan BPJS Kesehatan dan menambah dukungan anggarannya untuk masyarakat.
Megawati mengklaim dirinya merupakan pihak yang membuat BPJS. Dia mengatakan program tersebut sejak awal ditujukan untuk membantu masyarakat yang kesulitan membayar biaya kesehatan.
"Bayangkan sekarang, saya yang membuat BPJS, tetapi sekarang mulai dikutik-kutik. Kenapa? Padahal saya membuat itu bagi rakyat banyak, rakyat jelata, yang kalau sakit tidak mudah mencari uang," kata Megawati.
Dia kemudian meminta Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan tidak mengurangi keberlanjutan BPJS, melainkan memperkuat dukungan anggarannya.
"Tolonglah, BPJS itu tetap ada dan ditambah uangnya bagi rakyat banyak," ujarnya.
Megawati mengatakan kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencari nama. Menurutnya, pembentukan BPJS dilandasi keprihatinan terhadap masyarakat yang kesulitan memperoleh layanan kesehatan.
"Saya tidak mencari nama. Itu memang saya yang buat karena hati nurani saya. Sedih melihat rakyat itu menjual ini, menjual itu," katanya.
Dia kemudian menceritakan pengalamannya melihat seorang ibu menangis di rumah sakit karena anaknya sakit, sementara sang ayah sedang mencari uang untuk biaya pengobatan.
"Saya pernah melihat seorang ibu menangis di rumah sakit. Saya lihat, 'Ada apa, Bu?' 'Anaknya sakit. Bapaknya belum kembali.' 'Lho, kenapa?' 'Sedang mencari duit'," tutur Megawati.
Menurut Megawati, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan akses kesehatan dan pendidikan kepada masyarakat.
"Harus ada yang namanya pemerintah itu juga memberikan bakti kepada rakyatnya bagi kesehatan dan pendidikan. Itu seharusnya kerja dari pemerintah Republik Indonesia," ujarnya.
(lav)



























