Logo Bloomberg Technoz

Pengembangan satelit dari kayu tidak sepenuhnya lancar. Tantangan terbesarnya adalah kondisi ekstrem di luar angkasa.

Satelit kayu (Dok. via JapanGov)

Dalam satu orbit sekitar 90 menit, satelit dapat mengalami perubahan suhu dari sekitar -100°C hingga +100°C ketika berpindah antara sisi yang terkena sinar Matahari dan sisi yang berada dalam bayangan Bumi.

Imbas perbedaan pemuaian antara kayu dan logam, penggunaan paku atau sekrup berisiko membuat material retak. 

Oleh karenanya, tim pengembang menggunakan teknik sambungan kayu tradisional Jepang tomegata kakushi arikumi-tsugi, semacam sambungan dovetail yang membuat panel kayu saling mengunci tanpa paku atau perekat. Panel kayu yang digunakan memiliki ketebalan 4 milimeter (mm), dengan toleransi pengerjaan hingga 0,1 milimeter.

LignoSat pertama menjalani peninjauan keselamatan selama dua tahun oleh JAXA dan NASA sebelum diluncurkan pada November 2024 dari Kennedy Space Center. Satelit kemudian dibawa ke International Space Station dan dilepas ke orbit, lalu beroperasi selama sekitar empat bulan. Misi tersebut membuktikan bahwa struktur kayu dapat bertahan di lingkungan vakum luar angkasa.

Satelit kayu (Dok. via JapanGov)

Namun, eksperimen tersebut belum sepenuhnya sempurna. LignoSat mengalami masalah komunikasi dengan stasiun bumi yang diduga berkaitan dengan perangkat software dan mekanisme pembukaan antena.

Pengembangan LignoSat-1R kini dilakukan untuk memperbaiki masalah tersebut, dengan peluncuran berikutnya ditargetkan pada tahun fiskal 2027.

LignoSat generasi berikutnya dapat diarahkan untuk menyediakan komunikasi langsung dari luar angkasa ketika menara komunikasi di darat roboh akibat bencana alam. Di masa mendatang, Jepang bahkan membayangkan satelit kayu digunakan untuk membangun jaringan komunikasi yang lebih tahan terhadap bencana.

(fik/wep)

No more pages