Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp7,84 triliun dari sejumlah 20,91 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi yang terjadi 1,22 juta kali jual–beli.
Tercatat hanya ada penguatan 160 saham, dan sebanyak–banyaknya 466 saham terjadi pelemahan. Sisanya 162 saham stagnan.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan siang ini, pelemahan saham Bank BCA (BCA), VKTR hingga BUMI. Diperberat lagi oleh saham–saham perindustrian, saham konsumen non primer, dan saham properti melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 2,08%, 1,51% dan juga 1,12%.
Saham–saham big caps lain turut jadi pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 11,09 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 3,27 poin
- PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengurangi 2,78 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengurangi 2,58 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 2,46 poin
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengurangi 2,32 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 2,04 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 1,94 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 1,85 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 1,84 poin
Sentimen wait and see terhadap tinjauan terbaru MSCI Agustus 2026 yang dijadwalkan pada Rabu besok (12/8/2026) waktu setempat, melengkapi pelemahan IHSG pada siang hari ini, terang Panin dalam risetnya.
Terlebih lagi nilai tukar rupiah yang pada perdagangan hari ini kembali melemah dan menembus Rp17.800–an turut menyeret IHSG tergelincir di zona merah. Mengacu data Bloomberg, rupiah tengah melemah 0,41% di pasar spot di posisi Rp17.834/US$.
Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support menarik dicermati pada level Rp17.850/US$ dan selanjutnya Rp17.900/US$ secara potensial menahan rupiah.
Sentimen global dirasa masih abu–abu hingga jadi pemberat nilai rupiah, eskalasi perang Timur Tengah yang memanas menjadi penyebab– setelah adanya penyerangan oleh drone terhadap kilang minyak di Libya bagian barat baru-baru ini.
Serangan itu menghancurkan sebuah tangki penyimpanan, meningkatkan risiko terhadap fasilitas minyak dan berpotensi memperburuk kelangkaan bahan bakar di negara anggota OPEC tersebut.
(fad)





























