Logo Bloomberg Technoz

Pembangunan fasilitas LNG di luar Selat Hormuz akan melengkapi rencana UEA untuk membangun jaringan pipa baru dan memperluas pelabuhan, seiring upaya negara tersebut untuk sepenuhnya menghilangkan ketergantungan pada selat itu.

Konflik di kawasan ini telah menyoroti ketergantungan negara-negara Teluk terhadap Selat Hormuz, sehingga memaksa mereka mencari jalur alternatif yang tidak melewati perairan tersebut demi menjaga kelancaran ekspor energi dan stabilitas ekonomi.

Abu Dhabi National Oil Co. juga menjadi pihak yang paling aktif dalam menyalurkan minyaknya ke luar Teluk Persia, bahkan terkadang mengoperasikan kapal tanpa menyalakan sistem pelacakan demi menghindari deteksi.

Kapal-kapal perusahaan ini juga berulang kali diserang saat melintasi Selat Hormuz; pekan lalu saja, tiga kapal tanker diserang menggunakan rudal dan pesawat nirawak, sehingga total insiden sejak dimulainya konflik terkait dengan Iran mencapai 15 kasus.

Berbagai negara di kawasan ini sedang memfinalisasi rencana pembangunan infrastruktur yang memungkinkan pengiriman tanpa harus melewati jalur perairan vital tersebut.

Arab Saudi, yang sebelumnya telah mengalihkan jalur pengiriman minyak mentah melalui jaringan pipa Timur-Barat menuju pelabuhan di pesisir Laut Merah, kini tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas ekspornya.

Sementara itu, Irak sedang menyusun rencana untuk memulihkan jalur lama serta membangun jalur baru guna menyalurkan minyaknya ke Suriah dan Turki.

Rencana infrastruktur ekspor minyak yang tidak melewati Selat Hormuz./dok. Bloomberg

Jika terealisasi, rencana LNG UEA ini akan menjadi upaya pertama yang dilakukan oleh salah satu eksportir utama bahan bakar superdingin tersebut di kawasan ini untuk mengalihkan pasokan agar tidak melewati Selat Hormuz.

Negara-negara lain, seperti Qatar, sangat bergantung pada jalur tersebut untuk pasokan mereka.

Pembangunan fasilitas tersebut akan menelan biaya miliaran dolar. Sebuah pabrik di pesisir timur UEA kemungkinan juga mengharuskan negara tersebut memiliki jaringan pipa yang menghubungkan proyek itu dengan ladang gas di pesisir barat.

Adnoc Gas saat ini sedang membangun terminal ekspor LNG di Ruwais, di wilayah Teluk Persia, yang akan meningkatkan kapasitas ekspornya hingga lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 15 juta ton per tahun.

Secara terpisah, perusahaan menyatakan pada hari Senin bahwa mereka akan melanjutkan investasi senilai US$8,2 miliar untuk meningkatkan produksi gas.

CFO van Driel mengatakan perusahaan akan membangun fasilitas pengolahan gas baru guna menangani peningkatan volume produksi, seiring dengan melonjaknya permintaan baik di dalam negeri maupun di Asia.

Adnoc Gas memperkirakan adanya peningkatan sebesar 60% dalam laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) pada 2030 sebagai respons terhadap perkiraan kenaikan permintaan global akan bahan bakar tersebut.

Target ini—yang lebih tinggi dari sasaran pertumbuhan sebelumnya sebesar 40%—mencerminkan rencana investasi baru Adnoc Gas.

Perusahaan telah memulihkan sekitar 85% kegiatan operasional di fasilitas pengolahan gas Habshan—fasilitas terbesar di negara tersebut—yang sempat mengalami kerusakan akibat perang.

(bbn)

No more pages