Logo Bloomberg Technoz

Namun, penelitian terbaru menunjukkan kemungkinan tersebut belum dapat menjelaskan seluruh pengamatan.

Dalam penelitian terhadap Gerhana Matahari Total pada 8 April 2024, tim peneliti menggunakan balon ketinggian tinggi yang dilengkapi sensor cahaya, sensor di permukaan tanah, radiosonde, serta sensor yang dipasang pada pesawat untuk mencari sinyal shadow bands.

Hasil penelitian yang dipublikasikan pada Januari 2026 menunjukkan bahwa tidak ditemukan sinyal shadow bands oleh sensor yang berada di atas planetary boundary layer, lapisan atmosfer tempat turbulensi dekat permukaan Bumi paling banyak terjadi.

Temuan tersebut berbeda dengan penelitian pada gerhana 2017 yang mendeteksi sinyal sekitar 4,5 Hz baik dari balon di ketinggian maupun sensor di permukaan tanah.

Penelitian 2024 tersebut menyebut shadow bands masih diperdebatkan memiliki dua kemungkinan sumber. Pertama, turbulensi atmosfer di dalam planetary boundary layer. Kedua, efek difraksi dan interferensi cahaya yang terjadi di atas atmosfer.

Dalam penelitian terhadap Gerhana Matahari Total 2017, tim peneliti memang mendeteksi sinyal sekitar 4,5 Hz beberapa menit sebelum dan setelah totalitas pada sensor yang ditempatkan di balon maupun di permukaan tanah. Peneliti saat itu menyebut sinyal tersebut tidak dapat dijelaskan oleh teori atmospheric scintillation atau kelap-kelip cahaya akibat atmosfer.

Ilustrasi Gerhana Matahari (Envato)

Hasil berbeda antara pengamatan 2017 dan 2024 membuat riwayat shadow bands masih menjadi pertanyaan ilmiah. Peneliti dalam studi 2024 menyimpulkan fenomena tersebut mungkin tidak selalu muncul atau, jika muncul, dapat lebih banyak dipengaruhi turbulensi atmosfer. Namun, mereka menekankan masih dibutuhkan pengamatan lebih lanjut.

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 sendiri akan melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, serta wilayah Spanyol bagian utara dan sebagian Portugal. Di luar jalur totalitas, sejumlah wilayah di Eropa, Amerika Utara dan Afrika utara akan mengalami gerhana sebagian, NASA menerangkan.

Fenomena shadow bands menjadi salah satu hal yang dapat dicoba diamati menjelang dan setelah totalitas. Space.com menyebut pola tersebut dapat muncul beberapa menit sebelum dan sesudah fase total, ketika Matahari hanya terlihat sebagai sabit tipis.

Bagi ilmuwan, pengamatan terhadap shadow bands bukan sekadar fenomena visual. Pola tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai bagaimana cahaya merambat melalui atmosfer dan bagaimana kondisi atmosfer Bumi mempengaruhi cahaya Matahari.

Karena fenomena ini tidak selalu muncul dan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan perbedaan, gerhana 12 Agustus 2026 kembali menjadi kesempatan untuk mengumpulkan data mengenai salah satu fenomena paling misterius yang menyertai Gerhana Matahari Total.

(fik/wep)

No more pages