Perusahaan ini juga dijadwalkan memulai operasi komersial sekitar tahun 2029, menurut rilis terpisah dari Otoritas Pasar Energi (Energy Market Authority/EMA) Singapura.
Kedua perusahaan “harus memperoleh semua persetujuan yang diperlukan dari yurisdiksi terkait, menandatangani perjanjian pembelian listrik dengan pembeli, mengamankan pembiayaan yang memadai, dan menyelesaikan berbagai tahapan pengembangan proyek agar mencapai kesepakatan pendanaan akhir (financial close),” kata EMA.
Negara kepulauan ini, yang bergantung pada impor gas alam untuk sebagian besar kebutuhan listriknya, sejauh ini telah menyetujui rencana impor listrik bersih dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Australia, dan Kamboja.
Proyek yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi baik di Singapura maupun Malaysia ini akan "memanfaatkan infrastruktur interkoneksi bawah laut yang sudah ada maupun yang akan dibangun di masa depan antara kedua negara untuk memfasilitasi aliran listrik lintas batas," kata Sembcorp.
Ini merupakan langkah terbaru dari sejumlah rencana koneksi di Asia Tenggara untuk menyalurkan energi rendah karbon melintasi batas negara.
Singapura, yang memiliki keterbatasan sumber daya, berupaya memperkuat ketahanan energi dan mencapai target iklimnya dengan mengimpor sekitar 6 gigawatt energi rendah karbon pada tahun 2035.
(bbn)





























