Namun, Batam bukan pilihan pertama Welson. Yao bahkan tidak mengetahui keberadaan pulau tersebut. Ia terlebih dahulu meninjau Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam sebelum seorang kenalan menyarankan Batam. Tiga bulan setelah kunjungannya pada Juli tahun lalu, Welson menandatangani kontrak sewa.
Pulau tersebut memenuhi sejumlah kriteria. Batam hanya berjarak 40 menit perjalanan feri dari Singapura, sehingga memudahkan pengiriman produk dan mempermudah pelanggan datang ke Batam untuk melakukan audit. Lebih dari separuh penduduk Batam berusia di bawah 30 tahun, menyediakan basis tenaga kerja yang besar ketika banyak negara di Asia Tenggara menghadapi kekurangan pekerja, kata Yao. Welson akan mempekerjakan 300 pekerja pada tahap awal dan berencana meningkatkan jumlahnya menjadi 600 orang pada akhir tahun depan.
Status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas juga menjadi faktor penting. Status tersebut membuat perusahaan dapat mengimpor bahan baku dan mesin tanpa dikenai pajak, sementara perusahaan juga tidak membayar bea ekspor untuk produk jadi. Sejak masa jabatan pertama Trump pada 2017, ekspor Batam telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar US$19,6 miliar pada 2025.
Selain mendapat manfaat dari diversifikasi rantai pasok yang mendorong produsen memperluas operasi dari China ke Asia Tenggara, kebangkitan Batam menjadi titik terang bagi Indonesia secara lebih luas. Indonesia tengah menghadapi tekanan fiskal yang meningkat, pelemahan mata uang domestik, hingga isu korupsi pada program makan siang gratis yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto
Meski luas Batam hanya sekitar empat kali Manhattan dan populasinya sedikit di atas 1,2 juta jiwa, pertumbuhan ekonominya melampaui Indonesia sejak pandemi, didukung oleh ekspor, manufaktur, dan investasi. Pada 2025, produk domestik bruto (PDB) Batam tumbuh 6,8%, dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,1%. Pada kuartal I, ekonomi Batam tumbuh 5,8%, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,6%.
Keunggulan Batam dalam hal pasokan listrik juga kerap terabaikan. Lebih dari 80% listrik di pulau tersebut berasal dari gas alam, jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan pasokan listrik berbasis batu bara yang mendominasi Pulau Jawa dan sebagian besar wilayah Indonesia lainnya, kata Direktur Energi, Iklim, dan Sumber Daya BowerGroupAsia Indonesia Mardika Parama.
Batam juga relatif terbebas dari bencana alam karena tidak berada di kawasan Cincin Api Pasifik, berbeda dengan banyak wilayah lain di Indonesia. Faktor tersebut, bersama dengan sejumlah kawasan ekonomi khusus yang dimiliki Batam, membantu melindungi pulau itu dari gejolak yang terjadi di wilayah lain di Indonesia.
Dalam 12 bulan terakhir, Apple Inc telah membangun pabrik AirTag yang kini memproduksi 70% pasokan globalnya. Sementara itu, Oracle Corp dan Gaw Capital Advisors Ltd asal Hong Kong telah berinvestasi di pusat cloud dan data. Terbaru, Firmus Technologies Pty menyatakan akan membangun proyek pusat data pertamanya berkapasitas 360 megawatt di Batam sebagai bagian dari kemitraan dengan raksasa chip AS, Nvidia Corp.
Menyadari potensi Batam yang terus berkembang, Kementerian Investasi Indonesia pada Juni tahun lalu mendirikan kantor permanen di Batam untuk mempermudah investasi dan memenuhi kebutuhan perusahaan.
Bulan lalu, Prabowo membahas cara mempercepat transformasi Batam bersama para pemimpin daerah. Salah satu arahan presiden adalah mengembangkan lebih lanjut pelabuhan internasional di pulau tersebut untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekspor, menurut pernyataan pejabat setempat.
“Alat pemasaran Batam yang paling kuat adalah pengalaman perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi di sana,” kata Parama. “Jika investor benar-benar mendapatkan manfaat dari mendirikan usaha di pulau tersebut atau melakukan pengadaan melalui Batam, mereka akan mengatakannya. Dalam lingkaran investasi global, kabar seperti itu menyebar dengan cepat.”
Kesuksesan bisnis Batam saat ini merupakan hasil dari proses yang berlangsung selama beberapa dekade. Setengah abad lalu, Batam merupakan pulau yang tenang, dihuni desa-desa nelayan dan dikelilingi hutan bakau. Perkembangannya sebagai basis industri minyak dan galangan kapal dimulai pada awal 1970-an, ketika PT Pertamina Persero menjadikan pulau tersebut sebagai basis logistik untuk kegiatan operasi minyak dan gas lepas pantai. Setelah itu, Batam perlahan menarik produsen asing yang memproduksi barang elektronik dan produk teknik.
Perkembangan tersebut mencerminkan perjalanan Citramas Group, konglomerasi terdiversifikasi yang berbasis di Batam dan dipimpin taipan Indonesia Kris Taenar Wiluan. Bisnis perusahaan tersebut mencakup sektor properti hingga pariwisata dan berada di balik Nongsa Digital Park, salah satu dari lima kawasan ekonomi khusus di Batam.
Citramas menyediakan infrastruktur untuk mendukung perusahaan minyak dan gas di Batam sebelum berekspansi ke sektor pariwisata pada 1980-an. Saat itu, Batam dinilai berpotensi menjadi destinasi liburan akhir pekan yang murah bagi warga Singapura dan Malaysia, sebelum era maskapai berbiaya rendah. Selama bertahun-tahun, Citramas mengembangkan sejumlah resor wisata di pulau tersebut, termasuk lapangan golf 18 lubang yang dirancang Jack Nicklaus.
Namun, Mike Wiluan, anak kedua Kris sekaligus putra sulungnya, ingin berfokus pada ekonomi digital. Sebagai pembuat film yang antusias, ia mendirikan Infinite Studios, kompleks seluas lebih dari enam hektare yang dilengkapi berbagai set film dan telah digunakan untuk serial televisi Westworld serta film Monkey Man, debut penyutradaraan aktor Hollywood Dev Patel. Film dan animasi yang diproduksi di Infinite Studios telah ditayangkan di Netflix Inc, HBO, dan Apple TV.
Sebelum proyek-proyek besar Hollywood datang, Wiluan, yang kini menjabat sebagai Chief Executive Officer Citramas Group, mengaku kesulitan meyakinkan mitra-mitranya di luar negeri untuk melakukan syuting di studionya.
“Semua orang hanya berusaha membayangkan seperti apa tempat ini. Dan itu hampir seperti khayalan sampai mereka datang dan melihatnya sendiri,” kata Wiluan, yang juga menjadi salah satu produser film hit Crazy Rich Asians.
Infinite Studios menjadi cikal bakal pengembangan Nongsa Digital Park, yang diluncurkan pada 2018 dan saat itu dipandang oleh para pemimpin Indonesia dan Singapura sebagai jembatan digital antara kedua negara.
Kawasan seluas 188 hektare tersebut juga mencakup lahan yang disiapkan untuk pusat data, yang seluruhnya telah terisi oleh perusahaan seperti DayOne Data Centers Singapore Pte dan BW Digital Pte. Kini, terdapat daftar tunggu bagi perusahaan yang ingin masuk karena mereka berupaya memanfaatkan 14 sistem kabel bawah laut yang dimiliki Batam.
Batam bukan satu-satunya pesaing di kawasan ini. Malaysia dan Thailand juga berlomba menjadi pusat data, sementara Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura yang diluncurkan tahun lalu ditujukan untuk menarik perusahaan di sektor digital dan manufaktur.
Namun, Wiluan yakin Batam mampu bersaing. Di Nongsa, ia tengah mempertimbangkan pengembangan infrastruktur hijau serta proyek energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan pembangkit listrik.
Warga lokal juga turut meningkatkan taraf hidup mereka. Apple dan IBM memiliki akademi di Nongsa yang mengajarkan teknologi digital kepada warga Batam. Sementara itu, Infinite Studios menawarkan program pelatihan gratis selama satu bulan untuk perangkat lunak animasi. Lulusan yang berprestasi ditawari pekerjaan di perusahaan tersebut. Hingga kini, program yang dimulai pada 2016 itu telah memasuki angkatan ke-19.
Salah satu warga lokal yang mendapatkan pekerjaan setelah mengikuti pelatihan tersebut adalah Tommy Bagasdame, 31 tahun. Ia bergabung dengan studio animasi tersebut delapan tahun lalu. “Tanpa adanya penggerak utama di bidang kreatif di sini, seniman dan talenta teknologi lokal akan menghadapi pilihan sulit, yakni beradaptasi dengan pekerjaan tradisional di pabrik dan administrasi, atau meninggalkan Batam sepenuhnya untuk mengejar karier kreatif modern di kota-kota besar seperti Jakarta,” kata Bagasdame.
Pendapatan per kapita Batam pada 2025 juga lebih tinggi dibandingkan Jakarta. Sementara itu, tingkat pengangguran di pulau tersebut turun menjadi 7,6% pada tahun lalu, dibandingkan 11,8% pada 2020.
Di selatan Nongsa terdapat Tunas Prima Industrial Estate seluas 100 hektare, tempat pabrik AirTag milik Apple yang berukuran besar berdiri. Luxshare Precision Industry Co telah mempekerjakan sedikitnya 2.000 warga lokal di fasilitas AirTag tersebut dan berencana meningkatkan jumlahnya menjadi 6.000 orang dalam beberapa bulan mendatang, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. Perwakilan Apple dan Luxshare tidak menanggapi permintaan komentar.
Kawasan industri tersebut, yang dikembangkan perusahaan properti Batam Tunas Group, kini telah terisi 60%. Selain produsen mainan Welson, penyewa lainnya termasuk pabrik yang memproduksi furnitur luar ruangan yang dijual di Walmart Inc. dan Costco Wholesale Corp. Tunas Group memiliki dua kawasan industri lainnya, yang seluruhnya juga telah terisi.
“Saya rasa Trump tidak menyadari bahwa dirinya mungkin telah mendorong kebangkitan Batam,” kata Kepala Pengembangan Bisnis Tunas Group Chrispin Andereas. “Bukan hanya Batam, tetapi sebagian besar Asia Tenggara juga mendapat manfaat dari gangguan rantai pasok. Tren ini akan bertahan.”
(bbn)






























