Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, pertumbuhan laba tersebut belum sepenuhnya diikuti perbaikan kualitas aset lancar. Piutang usaha pihak ketiga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp773,08 miliar per akhir Juni 2026, dibandingkan Rp357,57 miliar pada akhir Desember 2025. Kenaikan piutang tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan perseroan selama semester pertama tahun ini.

Di sisi neraca, akun uang muka masih menjadi aset terbesar perseroan dengan nilai Rp3,39 triliun atau sekitar 56% dari total aset yang mencapai Rp6,01 triliun. Nilai tersebut jauh melampaui kas dan bank sebesar Rp270,02 miliar, piutang usaha Rp773,08 miliar, maupun aset tetap sebesar Rp936,21 miliar. Meski turun dibandingkan posisi akhir 2025, porsi uang muka masih mendominasi struktur aset SGER. 

Likuiditas perseroan juga masih menjadi perhatian. Saldo kas dan bank turun menjadi Rp270,02 miliar dari Rp361,27 miliar pada akhir tahun lalu. Pada saat yang sama, SGER masih membukukan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp30,11 miliar, meski mencatat laba bersih Rp140,31 miliar. Arus kas operasi tertekan antara lain oleh pembayaran bunga sebesar Rp82,55 miliar dan pembayaran pajak penghasilan Rp59,38 miliar. 

Dari sisi struktur pendanaan, utang bank jangka pendek turun menjadi Rp862,31 miliar dari Rp1,39 triliun pada akhir 2025. Namun, utang bank jangka panjang meningkat menjadi Rp800,6 miliar dari Rp471,1 miliar. 

Selain itu, utang obligasi jangka panjang juga naik menjadi Rp86,7 miliar dari Rp9,47 miliar. Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran komposisi utang ke tenor yang lebih panjang, meski beban keuangan perseroan tetap meningkat selama semester pertama tahun ini.

Di sisi lain, aset tetap bertambah menjadi Rp936,21 miliar dari Rp830,46 miliar pada akhir tahun lalu. Sementara itu, total ekuitas meningkat menjadi Rp2,58 triliun dari Rp2,37 triliun. Namun, kenaikan laba komprehensif juga ditopang oleh keuntungan translasi mata uang asing sebesar Rp74,92 miliar, sehingga tidak seluruhnya berasal dari aktivitas operasional perusahaan.

(dhf)

No more pages