Selain itu, satelit Neo-1 yang merupakan produksi BRIN akan diluncurkan pada awal 2027. Menurutnya, ini penting untuk menghasilkan data citra satelit secara mandiri untuk mendukung pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana serta pengawasan maritim. Pengembangan ini juga memberikan efisiensi biaya misi sekitar 71,9% dibanding benchmark misi sejenis.
Di bidang pertahanan keamanan, BRIN membangun kemampuan mulai dari wahana nirawak, sistem kendali sensor, hingga material pendukung pertahanan keamanan. Salah satunya adalah Buna MALE Alap-Alap, pesawat nirawak fixed wing untuk misi pemantauan, survei, dan pemetaan. Dengan kemampuan terbang hingga enam jam dan jangkauan kilometer, platform ini dapat mendukung pengawasan wilayah yang lebih efisien.
Di bidang transportasi, BRIN membangun kendaraan listrik, kapal, kereta api hingga mesin (engine) transisi energi. Desain kapal BRIN telah digunakan untuk kapal bea cukai dan juga kapal pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain itu, BRIN juga mengembangkan mesin yang dapat menggunakan bensin maupun campuran etanol E20 hingga E40.
Di bidang Makan Bergizi Gratis dan pangan, BRIN membangun inovasi di seluruh rantai mulai dari bahan pangan, mesin pengolahan, kemasan, deteksi halal, distribusi sampai pemantauan (monitoring) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Salah satu contohnya adalah Food Guard, perangkat yang ditempatkan pada ompreng untuk mendeteksi gas pembusukan dengan menggunakan multi-sensor dan model AI.
Di bidang inovasi pendukung kampung nelayan, BRIN juga telah membangun kemampuan mulai dari armada penangkapan, budidaya hingga pengolahan hasil perikanan. Salah satunya adalah kapal nelayan berpenggerak listrik yang berdasarkan hasil pengembangan BRIN berpotensi mengurangi biaya operasional energi hingga 70% dibandingkan dengan menggunakan BBM. BRIN juga menyiapkan teknologi budidaya, penyimpanan, pengeringan, dan pengolahan hasil sehingga nilai tambah tidak berhenti di laut, tetapi berlanjut hingga produk siap dilakukan.
"Di bidang kesehatan, BRIN mengembangkan kemampuan mulai vaksin tuberkulosis dan dengue, obat, diagnosis, radiofarmaka, alat kesehatan, stem-cell sampai kesehatan digital dan kosmetik. Salah satunya adalah alat pengukur hemoglobin berbasis laser yang bekerja secara non-invasif, cepat, portabel, dan real-time," ujarnya.
Di bidang industri sepatu, industri alas kaki, BRIN juga membangun kemampuan pada dua hal. Satu, kebutuhan massal. BRIN mengembangkan sepatu sekolah berbahan dasar karet lokal dengan teknologi one piece injection molding sehingga bagian atas dan sol menyatu tanpa perekat serta dapat diproduksi secara konsisten. Saat ini, harganya masih kurang dari Rp70.000.
Untuk produksi nilai tinggi, BRIN juga mengembangkan smart insole yang membaca distribusi tekanan kaki untuk mendukung rehabilitasi medis, olahraga, keselamatan kerja, dan riset.
Berikutnya adalah terkait dengan mineral kritis. BRIN membangun kemampuan mulai dari identifikasi sumber, ekstraksi, pemisahan hingga pemurnian. Unit pengolahannya dirancang untuk kapasitas minimum 1.000 ton bahan baku per tahun dengan potensi peningkatan nilai tambah hingga sekitar 40 kali.
Kemudian di bidang nuklir, BRIN berusaha menguasai seluruh rantainya. Penambangan dan pemurnian uranium dan torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi sampai pengolahan limbah. BRIN merasa harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Indonesia tidak memulainya sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi.
Di bidang pengolahan air, BRIN tadi memproduksi Arsinum Mobile yang menyediakan 5.000 hingga 20.000 air siap minum per hari dan telah mendukung penanganan bencana di berbagai tempat. Begitu pula teknologi desalinasi BRIN juga telah dilisensikan kepada industri dan diterapkan di lebih 40 lokasi pulau kecil dan di berbagai tempat yang ada.
Di bidang teknologi perumahan, BRIN mengembangkan genteng berbasis material lokal, panel bangunan, sistem rumah modular interlock yang dapat dirakit lebih cepat dibanding konstruksi konvensional. Salah satu desain dalam produk BRIN ditargetkan dapat dibangun 14 hari dan siap huni dalam 30 hari.
"Jadi kontribusinya bukan sekadar membuat genteng, tetapi membangun sistem konstruksi yang lebih cepat, terstandar, dan dapat diproduksi oleh industri nasional dan ramah lingkungan," ujarnya.
Dalam teknologi Giant Sea Wall, BRIN telah mengembangkan beberapa generasi unit lapis lindung untuk kebutuhan revetment, breakwater, dan perlindungan kaki tanggul, serta mengintegrasikannya dengan vegetasi pesisir dan pemantauan lingkungan. Peran BRIN adalah memastikan perlindungan pantai dibangun dengan material, desain, dan data yang sesuai dengan karakter pesisir, bukan sekadar menyalin desain yang ada.
Selanjutnya, dalam teknologi pengolahan sampah, BRIN juga sudah mengembangkan portofolio teknologi berdasarkan skala dan jenis sampah. BRIN juga sudah membangun PSEL Merah Putih untuk mengolah sekitar 100 ton sampah per hari. Sementara, untuk pirolisis yang menghasilkan bahan bakar, sudah diterapkan di 80 lokasi.
(dov/frg)
































