Logo Bloomberg Technoz

“Ada sinyalemen PT WBN dapat [tambahan kuota produksi] 25 juta ton, yang mungkin juga diikuti yang lain. Namun, APNI belum menerima pemberitahuan resmi baik dari pemerintah [maupun dari perusahaan],” kata Djoko ketika dihubungi, Kamis (6/8/2026).

Adapun, kabar tambahan kuota produksi PT WBN juga dinyatakan MySteel. Berdasarkan survei pasar yang dilakukan, MySyel menyatakan PT WBN mendapatkan tambahan kuota produksi bijih nikel sekitar 25 juta ton untuk paruh kedua 2026.

MySteel mencatat, dari sekitar 25 juta ton tambahan kuota produksi tersebut, sekitar 15 juta ton bakal dialokasikan untuk menjamin pasokan bijih limonit bagi smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

Sisanya, sekitar 10 juta metrik ton, dikabarkan dialokasikan untuk bijih saprolit. 

“Saat ini, belum ada dokumen resmi terkait dengan persetujuan kuota yang diterbitkan kepada WBN. Dengan penambahan ini, kuota tahunan WBN telah pulih menjadi 37 juta metrik ton, meskipun masih di bawah level pascapenambahan sebesar 42 juta metrik ton pada tahun 2025,” tulis MySteel dalam riset terbarunya.

Saat dimintai konfirmasi, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan belum terdapat persetujuan revisi RKAB.

“RKAB belum disetujui, kalau minta ya boleh saja,” kata Tri kepada Bloomberg Technoz, Kamis (6/8/2026).

Sekadar informasi, Weda Bay Nickel adalah perusahaan perusahaan tambang dan pengolahan bijih nikel yang telah beroperasi sejak 2019 melalui izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan akan beroperasi hingga 2069.

Perusahaan ini dioperasikan oleh Thingshan Group, perusahaan asal China yang memiliki porsi 51,2% saham, Eramet (asal Prancis) 37,8%, dan sisanya di miliki oleh perusahaan pelat merah Indonesia, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam dengan porsi 10%.

Adapun, perwakilan PT WBN serta Eramet Indonesia selaku pemegang saham minoritas di WBN belum memberikan jawaban kepada Bloomberg Technoz.

Sebelumnya, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet mengungkapkan WBN membidik kuota produksi dalam RKAB 2026 dapat direvisi dari sebelumnya sebesar 12 juta ton, menjadi seperti angka tahun sebelumnya sekitar 42 juta ton.

Baudelet mengungkapkan revisi RKAB biasanya diajukan pada Juli setiap tahunnya. Jika disetujui, perusahaan bakal mendapatkan persetujuan RKAB pada rentang Juli hingga September.

Kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 milik PT WBN yang disetujui Kementerian ESDM sebelumnya hanya sekitar 12 juta ton, dari kuota produksi tahun sebelumnya sebesar 42 juta ton.

“Jadi Weda Bay Nickel, maksud saya kami memproduksi 42 juta tahun lalu. Harapan kami bisa meminta jumlah yang sama dengan tahun lalu, tetapi ini ada di tangan pemerintah. Jadi kami menghormati keputusan mereka, kami hanya berharap mereka akan memberikan cukup bagi kami untuk mempertahankan operasi,” kata Baudelet kepada awak media di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Kamis (4/6/2026).

Baudelet mengungkapkan kapasitas produksi bijih tambang WBN mencapai 60 juta ton per tahun, sehingga perseroan menyanggupi memproduksi bijih hingga 42 juta ton pada tahun ini jika nantinya RKAB hasil revisi baru disetujui pada rentang Juli—September.

Di sisi lain, Baudelet mengungkapkan smelter nikel di IWIP berpotensi kekurangan bijih nikel sekitar 30 juta ton jika RKAB 2026 PT WBN tak disetujui.

Baudelet menjelaskan konsumsi bijih nikel untuk smelter nikel di kawasan IWIP pada 2025 mencapai 120 juta ton, dari besaran itu pada tahun lalu WBN memasok sekitar 42 juta ton bijih nikel.

Dengan begitu, dengan kuota produksi 2026 yang hanya disetujui 12 juta ton dan sudah habis, Baudelet memprediksi smelter nikel di kawasan IWIP bakal kekurangan bijih nikel hingga 30 juta ton.

“Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan Anda tahu seperti yang saya sampaikan dalam presentasi, konsumsi bijih di area IWIP adalah 120 juta ton. Tahun lalu kami memasok 42 juta. Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel,” ungkap Baudelet.

Adapun, Kementerian ESDM memangkas kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari produksi dalam RKAB tahun lalu sebanyak 320 juta ton. Pemerintah bertujuan mengatrol harga komoditas tambang andalan RI tersebut.

--Dengan asistensi laporan dari Dovana Hasiana

(smr/ros)

No more pages