Logo Bloomberg Technoz

Perusahaan penyulingan independen ini mencatatkan laba per saham yang disesuaikan sebesar US$9,14 pada kuartal kedua, rekor tertinggi sejak penawaran umum perdana (IPO) perusahaan pada tahun 2012.

Margin penyulingan melonjak pada bulan-bulan setelah AS dan Israel menyerang Iran, karena hilangnya pasokan dari Timur Tengah serta gangguan operasional kilang akibat serangan Ukraina terhadap Rusia memperketat pasokan global.

Seiring berlarut-larutnya konflik di Timur Tengah, pengelola cadangan minyak strategis menguras persediaan mereka. Kini cadangan tersebut perlu diisi ulang, yang menambah prospek permintaan.

Dan perang ini kemungkinan akan memicu pembentukan cadangan baru untuk “melindungi diri dari masalah geopolitik semacam ini,” kata Mandell.

"Kami mendengar adanya pembicaraan mengenai hal tersebut, di mana berbagai negara mempertimbangkan untuk membangun cadangan mereka sendiri, baik untuk minyak mentah maupun produk olahan minyak," ujar CEO Phillips 66, Mark Lashier, dalam wawancara dengan Bloomberg News pada Rabu.

"Namun, mereka juga memandang AS sebagai pemasok produk olahan minyak dan minyak mentah yang lebih dapat diandalkan," tambahnya.

Meski cadangan minyak membantu meredam dampak bagi pasar energi, beberapa perusahaan penyulingan juga mampu beralih dari jenis minyak mentah Timur Tengah. Kurang dari 1% minyak yang diolah Phillips 66 di kilang-kilangnya berasal dari Timur Tengah, kata Lashier. 

Saat harga minyak mentah global melonjak selama konflik berlangsung, perusahaan mengirim minyak light AS ke kilang di Pantai Timur, menggantikan minyak mentah impor.

"Jika kami harus mengolah minyak mentah tersebut dengan harga setinggi itu, kami terpaksa harus menutup kilang Bayway," ujar Lashier dalam wawancara tersebut, merujuk pada kilang yang berlokasi di Linden, New Jersey.

Phillips 66 juga melirik Amerika Latin sebagai sumber pasokan pengganti. Perusahaan kini menjadi pembeli minyak mentah Venezuela terbesar ketiga di dunia, ungkap Mandell dalam panggilan konferensi dengan para analis.

Tunda Pemeliharaan

Kilang-kilang menunda jadwal pemeliharaan demi meraih keuntungan, tetapi penundaan perbaikan yang berkepanjangan kemungkinan besar akan menyebabkan penghentian operasional yang tidak terencana, kata Mandell.

Fasilitas-fasilitas tersebut juga perlu melakukan pekerjaan besar-besaran pada tahun 2027 dan 2028, yang akan mengurangi pasokan minyak olahan dari pasar selama proses pengerjaan berlangsung.

Pasar bahan bakar juga menghadapi kendala struktural, ujar Mandell. Pembukaan kembali Selat Hormuz akan meningkatkan pasokan minyak mentah, tetapi tidak menambah pasokan produk olahan, dan penambahan kapasitas kilang baru tidak akan cukup untuk memenuhi perkiraan pertumbuhan permintaan, tambahnya.

Indikator profitabilitas kilang yang dikenal sebagai “3-2-1 crack spread” mencapai rekor tertinggi pada Juli. Selisih ini dihitung dengan mengambil rata-rata margin per barel yang diperoleh dari produksi dua barel bensin dan satu barel solar dari tiga barel minyak mentah.

Hingga Rabu, angkanya berada di sekitar US$57 per barel, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa.

Namun, masa kejayaan ini tidak bisa berlangsung selamanya. "Saham-saham perusahaan kilang saat ini berada di posisi yang sangat tinggi dan rentan," kata Ben Cook, manajer portofolio di Hennessy Funds yang mengelola dua dana investasi khusus sektor energi.

Berakhirnya konflik AS-Iran yang jelas kemungkinan akan menyebabkan penurunan tajam harga saham perusahaan penyulingan terkemuka AS seperti Phillips 66 serta perusahaan sejenisnya, Marathon Petroleum Corp dan Valero Energy Corp, katanya.

"Angka-angkanya luar biasa tinggi," kata Cook mengenai margin produksi bahan bakar yang melonjak drastis. "Namun, angka-angka itu bisa dengan mudah merosot kembali."

(bbn)

No more pages