Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pihaknya akan terus memonitor kebutuhan insentif dalam rangka menghadapi kemarau pada semester II-2026 mendatang. 

Dia menyebut sektor pertanian menghadapi tantangan krusial karena perlu memindahkan air dari sungai ke daerah pertanian yang membutuhkan. Beberapa wilayah disebut telah mulai melakukan pompanisasi. 

"Tentu kita harus melihat wilayah-wilayah dan kantong-kantongnya, dan tentu insentif yang diberikan sesuai K/L [Kementerian/Lembaga] yang terkait," kata Airlangga dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi kuartal II-2026, Rabu (5/8/2026) petang. 

Dia menambahkan, pemerintah pada dasarnya akan memberikan insentif kepada sektor yang membutuhkan untuk menghadapi musim kemarau di paruh kedua 2026 ini.

"Pemerintah tentu akan menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk itu," imbuh dia.

Perkembangan terbaru menunjukkan peluang El Nino terus meningkat. Berdasarkan proyeksi terbaru World Economic Forum (WEF), peluang fenomena tersebut berkembang menjadi super El Nino mencapai 81% pada akhir 2026, sementara kemungkinan kondisi itu berlanjut hingga 2027 mencapai 97%.

Apabila proyeksi tersebut terwujud, El Nino tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.

Sekadar catatan, khusus di sektor pangan pemerintah telah memberikan paket stimulus ekonomi yang diluncurkan pada Senin (22/6/2026), pemerintah mengalokasikan anggaran terbesar yakni Rp18,04 triliun untuk bantuan pangan yang difokuskan sebagai jaring pengaman sosial dan menjaga stabilitas pangan.

Pemerintah menyiapkan berbagai kebijakan tersebut untuk menjaga konsumsi masyarakat, memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), meningkatkan penyerapan tenaga kerja, serta menjaga stabilitas pangan. 

(mfd/ell)

No more pages