Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Menguat Pagi Ini, Jauhi Rp18.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
06 August 2026 09:25

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Kamis (6/8/2026) sempat tergelincir 0,02% ke Rp17.933/US$, tetapi kembali ke jalur penguatan dan terapresiasi 0,09% ke Rp17.913/US$. 

Penguatan rupiah pagi ini tertopang oleh jeda tekanan eksternal dan prospek Selat Hormuz kembali dibuka jika Amerika Serikat (AS) dan Iran bersepakat. Sejalan dengan harapan itu, harga minyak mentah cenderung melandai di kisaran US$79-80/barel. 

Meredanya ketegangan AS dan Iran mendorong penguatan mata uang Asia. Won Korea Selatan memimpin penguatan, disusul baht Thailand, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, rupiah, peso Filipina, yen Jepang, dan dolar Singapura. 

Mata uang Asia pada Kamis (6/8/2026). (Bloomberg)

Namun, penguatan rupiah relatif lebih terbatas jika dibandingkan baht dan won, juga ringgit. Laju penguatan rupiah diperkirakan masih tertahan oleh rilis data perekonomian domestik dan defisit neraca dagang yang belum berpontensi mengundang arus dolar AS dalam jumlah besar.

Pelaku pasar juga akan mencermati data cadangan devisa yang akan rilis besok. Sebagai catatan, cadangan devisa per akhir Juni sempat bertambah ke posisi US$145,6 miliar posisi Mei sebesar US$144,9 miliar.