Meski demikian, Sudaryono meminta seluruh pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah karena penyebab setiap kasus keracunan bisa berbeda-beda. Ia mencontohkan terdapat kejadian ketika makanan MBG dibawa pulang oleh siswa, kemudian dikonsumsi bersama anggota keluarga hingga menimbulkan keracunan.
"Jadi misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai. Tapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain. Sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, tapi termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanannya itu. Nah ini bagian dari PR kami bagaimana mengedukasi," katanya.
Menurut Sudaryono, BGN juga telah menugaskan guru sebagai person in charge (PIC) di sekolah untuk membantu mengawasi sekaligus memberikan edukasi kepada siswa terkait pelaksanaan program MBG, tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kementerian Kesehatan langsung menurunkan tim investigasi setelah menerima laporan dugaan keracunan yang sempat baru-baru ini terjadi.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada beberapa jenis makanan yang disajikan, tidak hanya pada buah semangka.
"Begitu itu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil lab-nya juga sudah ada. Jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya. Bukan hanya semangka, tapi ada beberapa makanan lain," kata Budi.
Ia menambahkan Kementerian Kesehatan telah mengidentifikasi titik permasalahan dalam proses penyelenggaraan di SPPG dan menyampaikan rekomendasi perbaikan kepada BGN untuk mencegah kejadian serupa terulang.
"Kita juga sudah melihat masalahnya ada prosesnya di mana, dan kita sudah memberikan masukan ke BGN mengenai masalah-masalah yang terjadi di SPPG tersebut," ujarnya.
Sebelumnya, puluhan siswa jenjang PAUD, SD, dan SMP di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG di sekolah. Para siswa sempat mendapat penanganan di Puskesmas Depapre, namun sebagian harus dirujuk ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas lain di Kabupaten maupun Kota Jayapura karena keterbatasan tenaga medis dan ruang perawatan.
(dec)





























