Kendati begitu, Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali meningkat pada Semester II-2026. Bahkan dia akan mengupayakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut bisa menuju ke arah 6%.
"Tapi ke depan saya yakin di kuartal III dan IV [2026], kita akan dorong ke arah yang lebih cepat di high round menuju 6% dengan memaksimalkan semua engine-engine growth yang ada di perekonomian," tuturnya.
Salah satu strategi yang akan ditempuh pemerintah yakni dengan meningkatkan likuiditas di perekonomian. Hal ini dilakukan guna menurunkan biaya dana perbankan sehingga suku bunga kredit bisa ikut turun.
"Termasuk menambah uang di perekonomian, menekan bunga yang diminta oleh SMV-SMV di bawah [Kementerian] Keuangan untuk turun ke level yang rendah sehingga perbankan bisa menaruh atau memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih rendah," jelas Purbaya.
Purbaya juga menyebut pemerintah tengah mencari berbagai instrumen yang dapat memperkuat kinerja sektor manufaktur. Dia mengatakan langkah tersebut dilakukan agar sektor yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional dapat tumbuh lebih baik dan memanfaatkan potensi pemulihan permintaan global.
"Yang jelas kita sedang mencari semua instrumen yang ada akan kita jalankan dalam semester II untuk memastikan manufacturing sector bisa tumbuh dengan lebih baik, memanfaatkan global demand yang mungkin akan recover dalam bulan-bulan ke depan, karena perangkat sudah mulai semakin terdekat di sana," ungkap Purbaya.
Pertumbuhan Belum Merata
Selain itu, Purbaya menyoroti masih rendahnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah Indonesia timur, termasuk Maluku dan Papua. Dia mengakui sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut belum berkembang secara optimal sehingga pemerintah akan melakukan kajian lebih lanjut bersama Kementerian PPN/Bappenas.
"Sumber pertumbuhan di sana memang belum optimal, kita akan lihat seperti apa. Saya akan konsultasi dengan Bappenas untuk memastikan pertumbuhan di sana lebih cepat," tambah Purbaya.
Dia menambahkan perlambatan pertumbuhan di sebagian wilayah Maluku dan Papua bukan fenomena baru. Menurut dia, daerah yang memiliki basis pertambangan seperti Maluku Utara cenderung mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang tidak memiliki sumber daya serupa.
"Kalau Anda ingat presentasi dari Bappenas, kelihatan sekali di Papua, di Maluku, agak lambat, nggak semua, daerah tertentu. Saya yakin Maluku Utara yang punya tambang pasti tumbuhnya kencang, tapi yang lain yang nggak punya itu mungkin lambat," imbuh Purbaya.
Masih Cukup Baik
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada kuartal II-2026 menjadi capaian yang patut diapresiasi mengingat kondisi ekonomi global masih dibayangi konflik geopolitik dan perang dagang.
Menurut Airlangga, pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menghadapi tekanan eksternal yang belum mereda selama hampir dua tahun terakhir. Konflik Rusia-Ukraina masih berlangsung, ketegangan di Selat Hormuz belum berakhir, sementara perang dagang dan disrupsi teknologi juga terus membayangi ekonomi dunia.
"Nah, di tengah kondisi seperti itu, walaupun berbagai lembaga melihat pertumbuhan ekonomi global hanya tumbuh rata-rata di atas 3%, Indonesia masih mampu tumbuh di kuartal ke-II sebesar 5,29%," ujar Airlangga dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026) sore.
Dia menambahkan, capaian tersebut dinilai semakin baik karena pada kuartal II tidak terdapat faktor musiman seperti Lebaran yang sebelumnya mendorong aktivitas ekonomi pada kuartal I-2026
Airlangga mengatakan, secara kumulatif ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026. Menurut dia, pertumbuhan tersebut membuat Indonesia tetap menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN.
(mfd/ell)




























