Logo Bloomberg Technoz

Saat berolahraga, denyut jantung dan tekanan darah meningkat karena jantung harus memasok lebih banyak darah dan oksigen ke otot. Lari cepat maupun badminton termasuk olahraga dengan intensitas tinggi. Khusus badminton, gerakannya bersifat eksplosif, diselingi berhenti, lalu berlari cepat kembali sehingga memberikan beban lebih besar bagi jantung.

"Pada orang yang memiliki penyempitan pembuluh darah koroner, gangguan irama jantung, kelainan otot jantung, atau tekanan darah yang tidak terkontrol, peningkatan beban ini dapat memicu keluhan bahkan kejadian serius. Jadi, olahraganya bukan penyebab utama. Aktivitas tersebut dapat 'membuka' masalah jantung yang sebelumnya belum diketahui," ujarnya.

Vito menambahkan bahwa risikonya akan lebih tinggi apabila seseorang sudah lama tidak berolahraga, kemudian langsung melakukan aktivitas fisik berat atau memaksakan diri mengikuti kemampuan orang lain.

Senada, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Universitas Indonesia sekaligus staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Berlian Idris, mengatakan lari, badminton, dan olahraga aerobik lainnya memang membuat jantung bekerja lebih keras.

"Lari dan badminton, serta olahraga lain yang nilai aerobik tinggi memberikan beban berat dan membuat jantung bekerja keras. Pada jantung yang tidak terlatih dan/atau sudah ada penyakit yang tersembunyi, beban yang berat ini dapat mencetuskan serangan jantung dan/atau henti jantung mendadak yang menyebabkan kematian," jelasnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Andi Kurniawan menjelaskan bahwa penyebab henti jantung saat olahraga berbeda berdasarkan kelompok usia.

Pada usia di atas 35 tahun, hasil penelitian menunjukkan penyebab tersering adalah penyakit jantung koroner atau aterosklerosis, yakni penyumbatan pembuluh darah akibat hiperkolesterolemia, hipertensi, diabetes, maupun kebiasaan merokok.

"Kalau usia di bawah 35 tahun, biasanya henti jantung disebabkan oleh kelainan struktural atau kelainan genetik, seperti kardiomiopati hipertrofik, atau karena ada kelainan secara genetik maupun struktural pada jantung," katanya.

Andi menegaskan bahwa lari dan badminton tidak berbahaya apabila dilakukan oleh orang yang sudah terlatih dan meningkatkan intensitas latihan secara bertahap.

"Tapi yang menarik adalah sebenarnya lari dan badminton tidak membahayakan atau tidak menyebabkan henti jantung apabila seseorang yang berlari dan melakukan olahraga badminton itu terlatih dengan baik. Mereka tidak meningkatkan intensitas atau kerja jantungnya secara mendadak," ujarnya.

Menurut Andi, faktor yang paling menentukan adalah intensitas olahraga. Pada intensitas ringan, seseorang masih bisa bernyanyi, sedangkan pada intensitas sedang, masih memungkinkan untuk berbicara. Sebaliknya, apabila saat berolahraga seseorang sudah tidak mampu berbicara, berarti intensitasnya sudah berat dan beban kerja jantung meningkat.

Karena itu, ia merekomendasikan masyarakat melakukan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang, terutama bagi mereka yang baru memulai kembali aktivitas fisik setelah lama tidak berolahraga.

"Jadi orang tidak perlu takut. Justru malah sebaliknya, ketika seseorang melakukan olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang, maka akan terjadi peningkatan kebugaran kardiorespirasi atau kebugaran jantung, sehingga akan mencegah risiko penyakit jantung di kemudian hari," kata Andi.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan pola kematian masyarakat Indonesia kini bergeser ke usia produktif. Jika kematian sebelumnya lebih banyak terjadi pada bayi dan anak, kini kasus kematian mulai banyak ditemukan pada kelompok usia 35 tahun ke atas dengan penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung dan pembuluh darah sebagai penyebab utama di tahun 2025.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah agar masyarakat tidak hanya memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang, tetapi juga tetap sehat.

"Masalah kita sebetulnya nomor satu, kita sudah turun tuh angka kematian bayinya. Kematian bergeser. Kalau dulu, mungkin kita sering mendengar nenek saya, yang anaknya enam, meninggal dua waktu kecil. Sekarang kita sudah tidak sering mendengar seperti itu.Tetapi sekarang kita makin sering mendengar teman kita lagi lari, eh serangan jantung. Atau setelah badminton, serangan jantung," ujar Maria dalam Konferensi Pers Cek Kesehatan Gratis, Selasa (04/08/2026).

(dec/spt)

No more pages