Sebaliknya, pemerintah memangkas alokasi pada beberapa seri lain. Nilai yang dimenangkan pada FR0108 (jatuh tempo 2036) turun menjadi Rp3,8 triliun dari Rp9,75 triliun, atau berkurang 61%.
Penyerapan pada FR0106 (jatuh tempo 2040) juga dipangkas drastis menjadi Rp1,2 triliun dari Rp4,7 triliun, turun sekitar 74,5%. Sementara itu, FR0105 (jatuh tempo 2064) dikurangi menjadi Rp750 miliar dari sebelumnya Rp1,65 triliun.
Pergeseran komposisi tersebut mengindikasikan pemerintah semakin selektif dalam menentukan seri yang dimenangkan untuk menjaga biaya penerbitan utang (cost of fund) sekaligus membangun likuiditas pada benchmark baru.
Hal tersebut terlihat dari keputusan memusatkan penerbitan pada FR0110, sementara penyerapan pada seri lain dibatasi meski permintaan investor tetap tinggi.
Dari sisi harga, yield SUN bergerak relatif stabil dengan perubahan yang terbatas. Pada seri FR0108, yield rata-rata tertimbang naik menjadi 7,31% dari 7,28%, atau meningkat sekitar 3 basis poin (bps).
Yield FR0106 naik menjadi 7,34% dari 7,29%, meningkat sekitar 5 bps, sedangkan FR0107 naik tipis menjadi 7,34% dari 7,32%.
Berbeda dengan tenor menengah, yield tenor panjang justru cenderung menurun. Yield FR0102 turun menjadi 7,36% dari 7,38%, sedangkan FR0105 turun tipis menjadi 7,38% dari 7,38%.
Penurunan yield pada tenor panjang menunjukkan investor, setidaknya masih punya keyakinan terhadap prospek fiskal Indonesia dalam jangka panjang.
Terlihat pada FR0106, tenor 14 tahun, yang mendapat permintaan investor mencapai lebih dari Rp8 triliun. Namun, pemerintah hanya memenangkan Rp1,2 triliun, sehingga bid-to-cover ratio melonjak dari 2,19 kali menjadi 6,68 kali. Hal ini menunjukkan pemerintah sengaja membatasi penyerapan untuk memperoleh harga yang lebih efisien, meski minat investor cukup tinggi.
Secara keseluruhan, hasil lelang SUN kali ini memperlihatkan keseimbangan yang baik antara meningkatnya permintaan investor dan disiplin pemerintah dalam mengelola pembiayaan. Naiknya penawaran, rasio bid-to-cover yang lebih tinggi, serta pergerakan yield yang relatif terkendali menggambarkan pasar obligasi domestik masih cukup solid.
Di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, hasil lelang ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap aset berdenominasi rupiah tetap kuat, sementara pemerintah berhasil menjaga biaya utang tetap efisien tanpa harus meningkatkan volume penerbitan.
Berikut daftar SUN yang dimenangkan kemarin:
(dsp/aji)


























