Logo Bloomberg Technoz

Pada Agustus 2024, sentimen positif datang dari pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di Jackson Hole yang pada saat itu, ia mengatakan “Waktunya telah tiba,” untuk memulai masa pelonggaran moneter. Pernyataan Powell itu menandai 'The end of an era' pengetatan moneter paling agresif di Amerika Serikat (AS) dalam empat dekade yang telah berlangsung sejak 2022 silam. 

Pasar merespon positif dengan euforia amat terjadi di pasar modal Indonesia hingga mencatat level tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) pada August 2024. Terlebih optimisme JPMorgan meyakini Indonesia menjadi negara emerging market yang paling diuntungkan dari pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve/The Fed.

Potensi dan Sentimen IHSG Agustus 2026

Untuk Agustus 2026, ada beberapa sentimen dan katalis yang dapat memengaruhi laju IHSG. Rilis data inflasi Indonesia periode Juli 2026 yang berada pada level 2,88% secara tahunan (year–on–year/yor). Melandai dibanding dengan inflasi Juni sebelumnya yang sebesar 3,34% yoy, jadi sentimen positif.

Angka inflasi ini juga lebih rendah dibanding konsensus Bloomberg yang mengestimasikan inflasi Juli akan mencapai 3,16% yoy. Terlebih lagi, Bank Indonesia (BI) menyebut, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1%.

Selain inflasi, juga terdapat rilis data aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI).

Tercatat, aktivitas manufaktur Indonesia berhasil kembali melaju di tren ekspansi pada Juli. S&P Global melaporkan, PMI Indonesia pada Juli 2026 berada pada level 50,2. Meningkat positif dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 46,9.

Hasil survei PMI manufaktur Indonesia pada Juli 2026 mengusung kabar positif. Pertumbuhan volume produksi seiring stabilnya pemesanan baru (new orders) pada Juli, hingga perusahaan tercatat positif menambah jumlah tenaga kerja.

PMI Manufaktur Indonesia (Sumber: S&P Global)

Sementara itu, keyakinan terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan juga menguat, dengan tingkat optimistis mencapai level tertinggi dalam enam bulan.

Manufaktur menjadi penting untuk menjadi perhatian pelaku pasar. Sebab, manufaktur adalah kontributor utama pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi lapangan usaha. Ketika sektor ini tumbuh, maka ekonomi secara keseluruhan akan ikut tumbuh.

Selanjutnya pada Agustus ini akan terdapat agenda penting yaitu rilisnya data Produk Domestik Bruto (PDB) yang akan menggambarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsensus Bloomberg mengestimasikan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 5,1% year–on–year. Di sisi lain, quarter–to–quarter, ekonomi diproyeksikan bangkit hingga menyentuh pertumbuhan 3,51% qoq setelah sempat terkontraksi 0,77% pada Kuartal I–2026.

Kemudian, laporan cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), angka penjualan eceran atau ritel, juga menjadi sentimen penting di pasar. Termasuk akan ada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga acuan atau BI Rate pada 18–19 Agustus.

IHSG dan Bursa Asia Berpotensi Menghijau

Jika disanding dengan bursa saham regional, atau rekan–rekannya di Asia, Bursa Malaysia KLCI Index mencatatkan rata-rata melesat 3,06%. Senada, TOPIX Jepang juga mencatatkan kenaikan 1,26%, juga NIKKEI 225 Jepang menguat 1,04%. Shanghai Composite China Index juga menguat 0,45%, disusul Shenzhen Comp. China yang menguat 0,05% pada perdagangan Agustus.

Jika mencermati lebih jauh, kenaikan paling tinggi dihadapi oleh Bursa Malaysia KLCI Index dengan kenaikan mencapai 3,06% pada Agustus dengan rata-rata perdagangan saham dalam 5 tahun terbarunya.

Data Historis Bursa Malaysia KLCI Indeks pada Agustus (Bloomberg Seasonality)

Adapun sentimen yang memengaruhi indeks utama Malaysia saat ini adalah laju perekonomian negaranya yang berhasil mencatatkan lonjakan pertumbuhan yang mengejutkan pada Kuartal kedua tahun ini. Kuatnya kinerja sektor jasa dan ekspor produk elektronik terbukti mampu menangkal dampak negatif dari perang di Timur Tengah.

Berdasarkan estimasi pertama dari Departemen Statistik Malaysia, mengutip Bloomberg News, Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia melonjak 5,8% year–on–year dalam periode tiga bulan hingga Juni, hingga melampaui prediksi nilai tengah (median) sebesar 5,2% dalam survei para ekonom oleh Bloomberg. Sebagai perbandingan, ekonomi Malaysia tumbuh sebesar 5,4% pada kuartal pertama tahun 2026.

Departemen Statistik Malaysia dalam pernyataannya menyebut, secara keseluruhan, ekonomi nasional tumbuh mencapai 5,6% pada paruh pertama tahun ini, melesat signifikan dibanding periode yang sama pada tahun lalu 4,5%.

“Kinerja di paruh pertama ini menempatkan fondasi ekonomi Malaysia pada posisi yang jauh lebih solid dari estimasi sebelumnya,” papar Julia Goh, seorang ekonom di United Overseas Bank Ltd.

(fad)

No more pages