"Pelemahan pada level profit before minority interest lebih dipengaruhi dampak konsolidasi BRMS. Sementara itu, jika melihat bisnis intinya, kinerja segmen batu bara BUMI masih tetap solid pada kuartal II 2026," kata Everson dalam risetnya, dikutip Senin (3/8/2026).
Hal itu tercermin dari pendapatan segmen batu bara yang tumbuh 19% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 52% secara tahunan. Kontribusi dari perusahaan patungan PT Kaltim Prima Coal (KPC) juga melonjak 80% dibandingkan kuartal I-2026 dan 410% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, pendapatan segmen emas turun 56% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 48% secara tahunan. Sekitar 90% pendapatan segmen emas BUMI berasal dari BRMS, sehingga pelemahan kinerja emiten tambang emas tersebut ikut membebani laporan keuangan konsolidasian perseroan.
Meski begitu, Everson menilai investor sebaiknya lebih mencermati laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk karena angka tersebut telah memperhitungkan kepentingan nonpengendali. Setelah dampak tersebut dinormalisasi, porsi kerugian BRMS yang benar-benar menjadi beban BUMI hanya sekitar US$0,9 juta, atau setara sekitar 3% dari laba bersih perseroan pada kuartal II-2026.
"Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk lebih mencerminkan kinerja yang benar-benar menjadi hak pemegang saham BUMI karena telah memperhitungkan kepentingan nonpengendali," ujar Everson.
Lebih lanjut, secara semesteran, pertumbuhan laba BUMI masih ditopang oleh bisnis batu bara. Pendapatan segmen tersebut naik 37% dibandingkan semester I-2025, sementara kontribusi laba dari PT Kaltim Prima Coal meningkat 205%. Pada saat yang sama, rugi dari penjualan dan penurunan nilai aset tetap turun drastis menjadi hanya US$0,01 juta, dibandingkan US$14 juta pada periode yang sama tahun lalu.
(dhf)




























